Info
|
Profil G+ Profil Facebook Profil twitter
Berita



Sejarah

Artikel

Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Ibnu Utsaimin Sang Guru Akidah

Ibnu Utsaimin Sang Guru Akidah [Indonesiaku Islam] - Asy-Syekh Ibnu Utsaimin adalah seorang ulama asal Arab Saudi yang terkenal dalam menyerukan dakwah tauhid. Dia sangat gencar mengajarkan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Akhlak Ibnu Utsaimin begitu mulia karena selalu menjadikan Rasulullah saw, sahabat, dan para tabi’in sebagai uswatun hasanah.

Nama lengkapnya Muhammad bin Shalih bin Sulaiman bin Abdurrahman bin Utsman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ahmad bin Muqbil al-Wabah. Dia berasal dari Bani Tamim.

Nama Utsaimin diambil dari nama sang kakek keempat, Utsman yang lebih terkenal dengan Utsaimin. Oleh karenanya, Syekh pun dikenal dengan Ibnu Utsaimin, atau anak dari Utsaimin.

Syekh lahir di Kota Unazah, Arab Saudi, 27 Ramadhan 1247 Hijriyah. Ayahnya merupakan seorang pebisnis, tetapi keluarganya hidup sederhana.

Sang ayah memercayakan pendidikan putranya kepada sang kakek, Syekh Abdurrahman bin Sulaiman al-Damigh, seorang imam masjid Al-Khazirah di Kota Unaizah. Dari sang kakek, Syekh Ibnu Utsaimin menghafal dan mempelajari Alquran.

Usia 14 tahun, syekh mampu menjadi seorang hafiz. Syekh juga belajar menulis, menghitung, dan bahasa dari kakek. Asuhan sang kakek berakhir hingga al-Utsaimin belajar di madrasah milik Syekh Ali bin Abdullah Asy-Syuhaitan.

Ibnu Utsaimin dikenal sangat cerdas dan memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Melihat kegigihan putranya, sang ayah pun mendukungnya untuk faqih dalam ilmu agama.

Dikirimlah syekh kepada para ulama ternama kala itu. Salah satunya, yakni Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, ahli tafsir terkenal penulis kitab Taisir al Karim Ar Rahman fi Tafsiri Kalam Al Manan.

Tak hanya tafsir, Ibnu Utsaimin juga mempelajari bahasa Arab, baik nahwu maupun sharaf. Dia juga sempat belajar di Ma’had Al-Ilmi di Kota Riyadh. Di sana dia mendapat banyak pengajaran dari beberapa ulama terkenal, termasuk Syekh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi.

Dengan kecerdasannya, dia pun mendapat akselerasi dari kelas dua langsung naik ke kelas empat. Lulus dari ma’had tersebut, dia melanjutkan ke Fakultas Syariah di Universitas Islam Al Imam Muhammad Ibn Su’ud yang dulu bernama Universitas Riyadh.

Syekh memulai dakwahnya setelah lulus universitas tahun 1374 Hijriyah. Saat gurunya Imam As Sa’di wafat, dia menggantikannya menjadi imam masjid sekaligus khatib di kota kelahirannya.

Syekh juga menggantikan gurunya dalam mengajar di perpustakaan Al-Wathaniyah yang berdiri sejak 1359. Namun, semakin hari perpusatakaan tersebut tak menampung lagi para penuntut ilmu. Jumlah murid Syekh terus bertambah.

Syeikh Ibnu utsaimin amat terkenal di Arab Saudi karena menjadi salah satu guru di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Syekh mengajarkan banyak ilmu agama, tapi yang paling terkenal yakni sikap dia dalam menjunjung akidah Ahlus Sunnah.

Baik karya, ceramah, maupun kitab yang ditulisnya, banyak membahas permasalahan akidah. Dakwahnya sangat sarat akidah salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Beberapa karya tentang akidah amat banyak. Di antaranya, syarh (penjelasan) Kitabut Tauhid, Al-Aqidah Al Wasithiyah, dan Lum’atul I’tiqad, Syarh Ushulil Iman, Al Iman bil Qadr, dan Al-Qawaid Al Mutsla.

Selain menghasilkan banyak karya, syeikh Ibnu Utsaimin juga berkiprah dalam beberapa jabatan penting. Dia merupakan salah satu anggota badan ulama besar Kerajaan Arab Saudi Ha’ah Kibar Ulama sejak 1407 hingga wafat.

Syekh menjadi anggota Al-Majlisul Ilmi di Universitas Islam Al Imam Muhammad Ibn Su’ud selama dua periode akademik, pimpinan organisasi tahfizul Qur’an Al Khairiyyah di Kota Unaizah pada 1405 hingga wafat.

Tak hanya itu, syeikh Ibnu Utsaimin pun mempimpin beberapa jabatan lain. Raja Arab Saudi, Raja Faishal, juga pernah memberikan penghargaan kepada Syekh berupa Jaizah Malik Faishal Al Alamiyah.

Setelah menorehkan banyak manfaat bagi Muslimin, Syekh Ibnu Utsaimin wafat pada Rabu, 25 Syawal 1421 Hijriyah. Dia meninggalkan banyak karya yang masih menjadi rujukan hingga kini.

Murid-muridnya pun tersebar di seluruh penjuru dunia tak terkecuali Indonesia. Terdapat seorang muridnya yang hingga kini menjadi ulama di Indonesia, yakni Ustaz Muhammad Umar As Sewed asal Cirebon. Begitu besar jasa Syeikh Ibnu Utsaimin bagi Muslimin. Semoga Allah merahamatinya.

Ulama Indonesia yang Mengajar di Makkah

Ulama Indonesia yang Mengajar di Makkah [Indonesiaku Islam] - Sungguh patut di contoh kakek kita ini, perjuangan hidupnya membuat saya takjub dan Insya Allah saya admin Indonesiaku Islam akan mencontoh Ulama Indonesia tersebut yang pernah Mengajar di Makkah, Saudi Arabia, Tanah Kelahiran Islam.

Berikut Ulasan Ulama Indonesia yang Mengajar di Makkah

Sebuah kebanggaan bagi muslimin Indonesia karena pernah memiliki ulama seperti Tuan Guru Abdurrahman Siddiq Al-Banjari.

Jika ulama pada umumnya belajar ke Arab Saudi, maka beliau justru ulama nusantara yang pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah. Saat kembali ke Nusantara pun, beliau menjadi soko guru yang mengenalkan tasawuf secara benar di tanah Melayu.

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, demikian nama lengkapnya. Dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahir beliau sebenarnya hanyalah Abdurrahman.

Nama "Siddiq" beliau dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Makkah. Beliau merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia. Ia tak sempat mendapat asuahan sang ibunda. Ia pun kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad. Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal. Maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.

Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syaikh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syaikh makin giat menuntut ilmu agama.

Beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatra Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahirn Islam, Makkah pada tahun 1887.

Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Saudi. Tak hanya di Makkah, beliau pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah. Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.

Sepulang dari Saudi, mantaplah ilmu syekh untuk berdakwah di negeri sendiri. Ia kemudian mengabdikan diri untuk berdakwah di Martapura, kemudian pindah ke Indragiri. Ia pun kemudian banyak didatangi para penuntut ilmu, tak hanya dari tanah air, namun juga dari negari tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Beliau bahkan mendirikan sebuah masjid dan madrasah di Indragiri Martapura. Madrasah yang ia buka pun kemudian menjadi tempat para penuntutu ilmu mengambil faedah dari syaikh dengan cuma-cuma. Tak ada iuran sepeser pun yang diminta dari murid-murid madrasahnya. Syekh bergantung pada hasil kebunnya untuk membiayai operasional madrasah.

Syekh Abdurrahman Siddiq, yang juga dipanggil "Tuan Guru" tersebut dikenal sebagai ulama yang amat giat dan aktif. Tak hanya sebagai sufi yang tawadhu, namun juga sastrawan yang membumikan ilmu tasawuf di tanah Melayu. Banyak syair yang telah dihasilkan Syaikh sementara dakwah terus berjalan.

Beliau meluruskan paham tasawuf dan ilmu kalam yang seringkali dipahami secara menyimpang. Pasalnya, banyak guru tasawuf yang hanya mengacu pada hal batin semata. Maka beliau pun hadir meluruskan ilmu tasawuf yang bena

Melihat kefaqihannya, banyak pemerintah setempat yang berkeinginan menjadikan beliau sebagai pemberi fatwa atau mufti. Ia pernah ditawari jabatan mufti dari sultan Kerajaan Johor, namun ia menolaknya. Saat berkunjung ke Betawi, Syekh juga diminta menjadi mufti namun lagi-lagi beliau menolaknya.

Baru setelah tawaran datang dari Kerajaan Indragiri Riau, beliau menerimanya. Itupun setelah pihak kerajaan terus menerus memohon kesediaannya. Maka diterimalah jabatan tersebut, namun dengan syarat tanpa mendapat bayaran darinya. Beliau menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri sejak tahun 1919 hingga 1939 yang berkantor di kawasan Rengat.

Selama hidupnya, Syekh banyak menghasilkan karya bermutu. Sedikitnya tercatat 20 buah karya kitab yang ia hasilkan. Tak hanya buku agama, namun ia pun menulis banyak karya sastra. Syekh memang dikenal sebagai ulama, mufti, sekaligus sebagai sastrawan dan pujangga.

Salah satu kitab beliau yang populer yakni Risalah 'Amal Ma'rifah. Diselesaikan pada tahun 1332, kitab tersebut disusun beliau karena minimnya rujukan tasawuf yang mumpuni bagi para alim ulama di masa itu. Maka kitab tasawuf itu pun lahir menjadi rujukan para penuntut ilmu, diajarkan para ulama dan guru agama di banyak majelis dan sekolah. Pada saat itu, kitab beliaulah yang relevan dalam ilmu tasawuf.

Adapun sebagai pujangga, karya sastra beliau yang terkenal terdapat dalam "Syair Ibarat Kabar Kiamat". Buku yang berisi kumpulan syair tersebut diterbitkan oleh Ahmadiyyah Press Singapura pada tahun 1915.

Dalam menulis sastra, Syekh memang beraliran religi. Karya-karya lain beliu yang populer pun terhitung banyak, diantaranya "Fath Al-Alim fi Tartib Al-Ta'lim" tentang adab menuntut ilmu, "Majmu' al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al 'ulama wa al Muta'allimin wa al Mustami'in" yang terbit di Singapura, "Bai`Al-Hayawah li Al-Kafirin" berisi fikih perdagangan, dan karya lain yang sangat populer saat itu.

Namun sayangnya, sekian banyak karya syekh saat ini sulit didapat. Pasalnya, banyak karya beliau yang terbakar saat terjadi agresi militer Belanda di nusantara.

Begitu banyak kiprah yang ia lakukan dalam dakwah di nusantara, khususnya di Kalimantan dan Melayu. Seluruh usianya beliau habiskan untuk menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. Setelah banyak hal yang ia lakukan untuk umat, sang Tuan Guru mendapati ajalnya. Beliau meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, pada 10 Maret 1930 di usia 72 tahun.

Meski jasadnya telah terpendam bumi, namanya masih selalu dikenang. Masjid yang ia dirikn saat ini masih tegak berdiri. Pemikirannya dan ajaran tasawufnya masih menjadi perhatian untuk dipelajari. Beliau dimakamkan di dekat masjid yang ia dirikan untuk madrasah gratis para penuntut ilmu. Hingga kini, makam beliau selalu ramai dikunjungi muslimin tak hanya etnis Banjar ataupun etnis Melayu saja, namun muslimin nusantara.