Info
|
Profil G+ Profil Facebook Profil twitter
Berita



Sejarah

Artikel

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah Singkat Pengangkatan Khulafaur Rasyidin

Sejarah Singkat Pengangkatan Khulafaur Rasyidin [Indonesia Islam] - Menurut Said Hawwa sebagaimana dikutip oleh Muhammad Herry, hanya ada satu prosedur legal pengangkatan khalifah, yaitu dengan pemilihan yang dilakukan oleh para tokoh yang mewakili umat (ahlul halli wal ‘aqdi) dan kesanggupan yang dinyatakan oleh orang-orang yang dipilih untuk menjadi khalifah. Inilah yang disebut kontrak sosial. Dan kontrak sosial tidak akan sempurna kecuali dengan al-ijab (penyerahan tanggung jawab) dan al-qabul (penerimaan tanggung jawab).

Al-ijab dilakukan oleh ahlul halli wal ‘aqdi yang merupakan proses pemilihan khalifah. Sedangkan al-qabul datang dari pihak orang yang terpilih untuk menjadi khalifah.

Inilah yang terjadi di zaman Khulafa Rasyidin, zaman setelah wafatnya Rasulullah saw… Untuk itu marilah kita telusuri secara singkat sejarah terpilihnya empat khalifah pasca Nabi Muhammad saw.
Abu Bakar ash-Shiddiq RA

Pasca meninggalnya Rasulullah SAW, kaum Anshar (penduduk asli Madinah), berkumpul di Saqifah bani Saa’idah. Bukan sekadar berkumpul, tapi mereka sedang mendulang dukungan kepada Sa’ad bin Ubaidah RA sebagai pimpinan, menggantikan Nabi. Peristiwa tersebut didengar oleh Umar bin Khaththab. Umar lalu memberitahukan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Lalu, Umar dan Abu Bakar mengajak Abu Ubaidah RA menuju ke Saqifah bani Saa’idah.

Sesampainya di sana, jumlah umat semakin banyak, dan di depan umat itulah Abu Bakar berpidato agar umat memilih Umar atau Abu Ubaidah. Tapi keduanya menolaknya. Bahkan Umar dan Abu Ubaidah bersepakat untuk membaiat Abu Bakar. Belum juga mereka menjabat tangan Abu Bakar, Basyir bin Sa’ad yang berasal dari kaum Anshar, menjabat tangan Abu Bakar dan langsung membaiatnya. Dari sini lalu khalayak membaiat Abu Bakar, baik dari kalangan Anshar, Muhajirin, dan tokoh Islam lainnya. Abu Bakar tidak lagi sanggup menolak amanah yang diberikan umat kepadanya.

Umar bin Khaththab RA
Tatkala Abu Bakar ash-Shiddiq merasakan ajalnya sudah dekat, ia mengundang para sahabat untuk membahas siapa penggantinya. Abu Bakar juga menulis surat yang ditujukan kepada khalayak, yang menjelaskan atas apa pilihannya itu. Abu Bakar menjatuhkan pilihannya kepada Umar bin Khaththab. “Tapi, kepada para sahabat, Abu Bakar berkata, ‘Saya menjatuhkan pilihan kepada Umar, tapi Umar bebas menentukan sikap’.”

Rupanya, umat juga bersetuju dengan Abu Bakar. Lalu, kepada Umar, Abu Bakar berpesan, “Sepeninggalku nanti, aku mengangkatmu sebagai penggantiku…” ucap Abu Bakar pada Umar bin Khaththab.
“Aku sama sekali tak memerlukan jabatan khalifah itu,” Umar menolak.
Tapi, atas desakan Abu Bakar dan dengan argumentasi yang membawa misi Ilahi, Umar luluh dan menerimanya. Sepeninggal Abu Bakar, ketika Umar dilantik jadi khalifah, ia justru menangis. Orang-orang pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis menerima jabatan ini?”
“Aku ini keras, banyak orang yang takut padaku. Kalau aku nanti salah, lalu siapa yang berani mengingatkan?”
Tiba-tiba, muncullah seorang Arab Badui dengan menghunus pedangnya, seraya berkata, “Aku, akulah yang mengingatkanmu dengan pedang ini.”
“Alhamdulillah,” puji Umar pada Ilahi, karena masih ada orang yang mau dan berani mengingatkannya bila ia melakukan kesalahan.

Utsman bin Affan RA
Sebagaimana tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Umar tidak mau menunjuk penggantinya. Kepada para sahabat, dia berpesan, “Hendaklah kalian meminta pertimbangan pada sekelompok orang yang oleh Rasulullah SAW pernah disebut sebagai calon penghuni surga. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib RA, Utsman bin Affan RA, Abdurrahman bin Auf RA, Zubair bin al-Awwam RA, Sa’ad bin Abi Waqqash RA dan Thalhah bin Sa’ad Ubaidillah RA.

Hendaklah engkau memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pemimpin. Dan bila sudah terpilih, maka dukunglah dan bantulah pemimpin itu dengan baik.”

Ketika Umar meninggal dunia, para sahabat berkumpul di rumah Aisyah RA, kecuali Thalhah yang sedang berada di luar kota. Mereka pun bermusyawarah, siapa sebaiknya yang patut menggantikan Umar. Di tengah membicarakan mekanismenya, Abdurrahman angkat bicara, “Siapa di antara kalian yang mengundurkan diri dari pencalonan ini, maka dia berhak menentukan siapa pengganti Khalifah Umar.” Tak seorang pun yang berkomentar. Maka, Abdurrahman berinisiatif mengundurkan diri. Yang lain berjanji akan tetap bersama Abdurrahman, dan menerima apa yang akan diputuskannya.

Meski sudah mendapat mandat dari para calon ahli surga, Abdurrahman tak mau gegabah untuk memutuskan siapa yang mesti dipilih sebagai khalifah. Selama tiga hari tiga malam Abdurrahman mendatangi berbagai komponen masyarakat untuk didengar aspirasinya.

Pada hari ketiga, barulah Abdurrahman memutuskan Utsman sebagai pengganti Umar. Abdurrahman membaiat Utsman, diikuti oleh para sahabat lainnya, termasuk mereka yang disebut-sebut oleh Rasulullah SAW sebagai ahli surga.

Ali bin Abi Thalib RA
Akhir hayat Utsman juga sama dengan yang dialami oleh Umar bin Khaththab, dibunuh oleh seseorang yang tak menyukai Islam terus berjaya. Sepeninggal Utsman, Ali didatangi oleh kaum Anshar dan Muhajirin. Mereka bersepakat untuk membaiat Ali. Tapi Ali menolaknya, karena ia memang tidak berambisi untuk menduduki jabatan duniawi. Tak ada pilihan, tak ada tokoh sekaliber dia. Umat pun terus mendesak. Akhirnya Ali luluh, dan berucap, “Baiklah, kalau begitu kita lakukan di masjid saja.” Dan Ali, dibaiat di dalam masjid.

Manusia Yang Paling Ditakuti Para Setan

Manusia Yang Paling Ditakuti Para Setan, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Umar Bin Khattab
Manusia Yang Paling Ditakuti Para Setan [Indonesiaku Islam] - Tahukah kamu siapa orang atau manusia yang paling ditakuti para setan bahkan jika ketmu dengan orang ini maka setan akan kabur dan tidak akan mau mendekatiya ?

Seperti yang kita ketahui setan tidak akan pernah takut dengan manusia bahkan yang paling takut dengan setan adalah manusia namun asal kamu ketahui tenyata ada satu orang yang paling ditakuti setan dia adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Abu Hafsh Umar al-Faruq bin Khattab bin Nufail bin Abdil Uzza bin Adi bin Ka’ab bin Lu’aiy bin Ghalib al-Qurasy atau yang sering kita kenal dengan nama Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab ketika memimpin islam merupakan pemimpin yang berani menujukan ajaran islam di makkah. Sebelum masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad Umar bin Khattab merupakan orang yang sangat keras dalam menentang islam bahkan ia sering melakukan perbuatan kasar Terhadap kaum muslim pada waktu itu. Umar bin Khattab juga pernah berkata tidak akan pernah masuk Islam slam sampai ada keledainya al-Khattab yang masuk Islam.

Namun ALLAH SWT maha besar dan bisa meluluhkan hati Umar bin Khattab yang keras untuk masuk Agama Islam. Setelah keislaman Umar, kemuliaan dan kekuatan Islam semakin bertambah.

Nah lalau kenapa Umar bin Khattab bisa ditakuti para setan ? Ternyata setan pernah berbicara dengan nabi Muhammad “Demi Allah SWT, setiap kali saya bertemu dengan Umar , mesti akan lari darinya,”.
Hal ini sesuai hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai Ibnul Khattab, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu dengannmu di suatu jalan melainkan ia akan mengambil jalan yang lain dari jalanmu.” (HR. Bukhari, no.3480)
Dari hadis diatas setan akan takut dengan Umar bin Khattab dan jika bertemu dengan Umar bin Khattab maka setan akan menghindar.

Punahnya Pusat Peradaban Arab Kuno dan Islam

Punahnya Pusat Peradaban Arab Kuno dan Islam, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Punahnya Pusat Peradaban Arab Kuno dan Islam
Punahnya Pusat Peradaban Arab Kuno dan Islam [Indonesiku Islam]

Kawasan Suriah telah eksis sejak era sebelum Masehi.

Suriah selalu memiliki pesona dari waktu ke waktu. Banyak peradaban yang tumbuh di negeri tersebut sejak masa Arab Kuno Tadmur hingga peradaban Islam dengan menjadi ibu kota kekhalifahan Umayyah. Tapi, “The Craddle of Civilization” tampaknya tak layak lagi di sandang Suriah. Perang saudara sejak awal 2011 lalu membuat negeri peradaban ini luluh lantak.

“If paradise be on earth, it is without a doubt, Damascus, but if it be in heaven, Damascus is its counterpart on earth,” demikian ucapan seorang musafir Muslim Ibn Jubair menggambarkan betapa indahnya Damaskus, ibu kota Suriah. Surga tentu identik dengan keindahan. Sementara, Ibn Jubair memilih Damaskus sebagai kota surga dunia karena begitu eloknya kawasan tersebut.

Betapa banyak peradaban yang pernah tertoreh di kawasan tersebut. Damaskus hanyalah sebagian kawasan Suriah yang paling mencolok keindahannya. Tapi, secara umum Suriah memang memiliki banyak peninggalan peradaban yang mempercantik negeri yang dahulu bernama Syam. Beragam peradaban pernah menapakkan jejak di sana, dari peradaban Arab kuno, Romawi, Persia, hingga peradaban Islam.

Kawasan Suriah telah eksis sejak era sebelum Masehi. Kala itu, negeri ini bukanlah pusat munculnya peradaban dunia. Suriah hanyalah kawasan padang pasir yang hanya dilalui beberapa sungai. Sementara, peradaban manusia biasanya muncul di kawasan subur yang dialiri sungai besar. Tapi, lokasi Suriah yang strategis membuatnya tak bisa luput dari catatan sejarah kuno. Pada masa awal perkembangan peradaban bangsa, kita mengenal Mesopotamia di Irak dengan sungai Tigris dan Eufrat, serta peradaban Firaun di Mesir dengan Sungai Nil.

Dua peradaban besar dunia ini berlokasi di kanan kiri Suriah. Alhasil, kawasan Suriah menjadi jalan penghubung dua peradaban kuno tersebut. Maka, kawasan padang pasir itu pun serta merta menjadi pusat perdagangan internasional. Para pedagang dari Mesopotamia ke Mesir dan sebaliknya selalu melewati kawasan Suriah. Jadilah, Suriah bersama Mesopotamia dan Mesir disebut sebagai kawasan “timur dekat kuno” atau kawasan “bulan sabit subur” yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya kawasan Timur Tengah yang sekarang.

Tadmur

Sejak abad kesepuluh sebelum Masehi, terdapat sebuah kota di kawasan Suriah yang terkenal dalam sejarah Arab Kuno, yakni Kota Tadmur. Kota ini pun disebut dalam Taurat karena Nabi Sulaiman pernah membangunnya menjadi kota perniagaan yang amat maju. Menurut Prof Dr Mukhtar Yahya dalam bukunya Perpindahan-Perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah Sebelum Lahir Agama Isla, Kota Tadmur menjadi pusat perniagaan yang amat penting karena lokasinya yang sangat strategis.

Inilah tempat pertemuan perdagangan dari Timur ke Barat dan dari Selatan ke Utara. Posisi sebagai pusat perdagangan ini terus diemban Tadmur ketika dua kekuasaan besar berkuasa, yakni Romawi dan Persia. “Ahli sejarah menjuluki kota ini dengan sebutan mutiara padang pasir. Rasanya, tidaklah jauh dari kebenaran bila mereka memberi nama julukan demikian,” ujar Mukhtar Yahya.

Adapun lokasi Tadmur, menurut Yahya, berada di Gurun Pasir Suriah, sekitar 200 kilometer sebelah Timur Damaskus. Saat era kerajaan Bani Israil, kota ini menjadi benteng pertahanan mereka untuk melindungi dari serangan bangsa nomad. Adapun bangsa Barat menamai Kota Tadmur ini dengan julukan Palmyra yang dalam bahasa Yunani berarti kota pohon palem. Reruntuhan kota tersebut masih dapat disaksikan hingga kini bahkan menjadi kawasan kuno yang dilindungi badan PBB untuk urusan pendidikan dan kebudayaan atau UNESCO.

Pasca-Tadmur, pada abad keempat sebelum Masehi, sempat muncul bangsa Nabath atau Nabatia yang mengambil alih fungsi kota perdagangan dari Kota Tadmur yang telah hancur. Bangsa ini menetap di bagian selatan Suriah dan membangun kerajaan Arab Kuno yang besar. Wilayah kekuasaannya tak hanya di Suriah, tapi mencapai kawasan Hijaz Utara, termasuk Gaza Palestina dan Yordania. Merekalah yang membangun Kota Petra di Yordania yang peninggalannya sangat terkenal hingga kini.

Namun, baik Tadmur maupun Nabath, tak kuasa menghadapi Romawi. Kawasan Suriah pun berada di bawah kekuasaan Romawi hingga pembukaan Islam di masa kekhalifahan Abu Bakr Ash-Shiddiq.

Pada masa kedatangan Islam, Suriah yang saat itu disebut sebagai Negeri Syam masih terkenal sebagai kawasan perdagangan. Nama Syam mengacu pada salah satu nama putra Nuh yang selamat dari musibah banjir besar, Sam. Dari Sam, lahir Bangsa Semit yang melahirkan agama Ibrahimiyyah, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam. Syam kala itu tak hanya Suriah, tapi juga Palestina, Lebanon, dan Yordania. Adapun Rasulullah beberapa kali berkunjung ke Suriah, bahkan sebelum diangkat Allah sebagai seorang Rasul. Dia berkunjung ke sana untuk melakukan perdagangan.

Suriah merupakan negeri pertama yang dibuka kaum Muslimin. Ini terjadi sekitar 630 Masehi saat kekhalifahan Abu Bakr Ash-Shiddiq. Di bawah panji pemimpin Khalid bin Walid, pasukan Muslimin mengalahkan Romawi Timur atau Byzantium. Suriah pun menjadi negeri Muslim. Islamnya Suriah membawa banyak keuntungan bagi perkembangan Islam. Menurut Phillip K Hitti dalam History of the Arabs, dakwah Islam semakin meluas setelah pembukaan Suriah. Pembukaan yang cepat dan mudah pada wilayah yang strategis tersebut telah menaikkan citra Islam di mata dunia.

Dari Suriah, Muslimin membanjiri Mesir, kemudian bergerak membuka seluruh kawasan Afrika Utara. Dari Suriah, wilayah Muslimin semakin meluas dan kuat. “Kekuasaan Islam semakin meluas kurang dari seratus tahun setelah Nabi wafat,” kata Hitti.

Suriah pun memulai era peradaban Islam. Banyak masjid dibangun di negeri tersebut. Puncak peradaban terjadi ketika era Dinasti Umayyah. Khalifah pertama, Muawiyyah memindahkan ibu kota pemerintahan Muslimin dari Madinah ke Damaskus di Suriah. Alhasil, Suriah menjadi negeri dengan perkembangan Islam yang sangat pesat sekaligus menjadi pusat peradaban Islam kala itu. Banyak peninggalan Umayyah di Suriah, termasuk bidang arsitektur. Salah satunya, Masjid Umayyah atau Umami.
(Republika)

Tahun Baru dan Tradisi Masyarakat.

'Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan'
Tahun Baru dan Tradisi Masyarakat.

Tahun Baru dan Tradisi Masyarakat. [ Indonesiaku Islam ] - Hari – hari ini adalah awal tahun baru Hijriyah yaitu 2 Muharam 1434 H. Awal tahun baru sudah seharusnya kita berinstropeksi untuk kedepannya agar lebih baik. Berkaitan dengan tahun baru Hijriyah ini, saya ingin berbagi tentang suatu cerita yang menurut saya sangat menarik. Cerita ini saya peroleh dari khutbah seorang ustad, begini kisahnya :

Dulu, ketika Mbah Marijan masih hidup Ustad ini pernah ditanya Mbah Marijan,“Ustad, saya mau bertanya, kenapa tulisan Masjid di Masjid Agung Jogja ada tiga, satu tulisan latin, kedua tulisan arab, dan ketiga tulisan Jawa?”(tentunya pertanyaan ini dengan bahasa Jawa, tapi saya lupa redaksi Jawanya). Kemudian berikut jawaban sang Ustad, beserta penjelasanya.

Tulisan yang ada di Masjid Agung Jogja ada tiga jenis, sebenarnya ini menggambarkan keadaan umat islam yang ada di masyarakat kita. Pertama, tulisan latin, ini menggambarkan bahwa di masyarakat kita ada yang memeluk islam sekuler(liberal) artinya, meraka melakukan ibadah umat islam namun mereka masih meniru gaya hidup orang barat yang sekuler, meraka sholat tetapi meraka juga pesta dll. Sedangkan tulisan kedua, huruf arab, ini melambangkan adanya masyarakat kita yang memeluk islam dan berusaha menegakkan ajaran islam itu. Ketiga, tulisan jawa, ini melambangkan ada masyarakat kita yang sudah memeluk islam tatepi masih melakukan tradisi nenek moyang seperti sesajen dan lain – lain. Intinya dalam masyarakat kita ada tiga golongan umat islam yaitu : islam sekuler, islam yang islami, dan islam tradisional.


Hal ini juga terlihat dalam perayaan tahun baru yang ada di Negara kita. Ada tiga tahun baru besar yang dirayakan di lingkungan kita(khususnya Jawa), yaitu : Tahun Baru Masehi, yang perhitungan awalnya berdasarkan kelahiran Nabi Isa, Tahun Baru Hijriyah, yang perhitumganya berdasar hijrahnya Nabi Muhammad, dan Tahun Baru Saka yang perhitunganya berdasarkan penemuan huruf Jawa(yang terakir ini saya agak lupa). Nah, dalam perayaan tahu n baru ini kita bisa mengetahui mana kelompok masyarakat yang condong ke islam sekuler, islam islami, dan islam yang tradisional. Biasanya kelompok yang pertama, kelompok sekuler, akan memperingati Tahun Baru Masehi dengan pesta pora, kembang api dan sebainya. Kelompok kedua, islam yang islami, biasanya mereka merayakan Tahun Baru Hijriyah dengan pengajian . Kelompok yang ketiga, Islam Tradisional, biasanya mereka memperingati Tahun Baru Jawa dengan kirab, mencuci senjata dan lainya.

Setelah mengerti ketiga kelompok umat islam yang umumnya ada di masyarakat ini, harapanya kita tidak saling berbecah belah karena perbedaan ini. Namun, yang harus dilakukan denga mengeti perbedaan ini adalah kita bisa bersikap dengan benar dan juga masuk dalam kelompok yang baik, yaitu kelompok yang menyatakan islam dengan sepenuh hati dan berusaha sekuat mungkin untuk melaksanakan ajaran islam itu. Yaitu dengan memeluk Islam secara “kaffah”.

Peristiwa Perang Badar

'Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan'
Peristiwa Perang Badar.
Peristiwa Perang Badar [ Indonesiaku Islam ] - Sejarah Perang Badar, menurut riwayat Abu Ishaq, Rasulullah keluar bersama 314 orang sahabatnya pada suatu malam di bulan Ramadhan dengan membawa 70 ekor unta. Setiap unta ditunggangi secara bergantian oleh duA atau tiga orang. Kaum muslimin tidak mengetahui keberangkatan bala bantuan Quraisy yang keluar dari Mekah dengan tujuan perang. Pada saat itu, Abu Sofyan berhasil lolos menyusuri mata air Badar dengan melewati jalanan panjang menuju Mekah.

Rasulullah SAW beserta para sahabat berjalan menuju Badar dan langsung mengambil posisi yang menguntungkan. Setelah orang-orang musyrik muncul dan kedua pihak saling melihat, beliau berdiri memohon pertolongan kepada Allah, diikuti sahabat lainnya dengan penuh ikhlas dan rendah diri di hadapanNya. Ketika dua pasukan semakin mendekat, Rasulullah berdiri di tengah kaum muslimin untuk menyampaikan nasihat dan mengingatkan kemenangan yang tak akan lama lagi diraih. Beliau juga mengabarkan, bahwa Allah menjanjikan masuk surga, bagi siapapun yang syahid di jalanNya.

Pada peperangan ini, diriwayatkan bahwa Rasulullah senantiasa terus memperbanyak doa, dengan penuh ketundukan dan khusyu’, sehingga Abu Bakar iba melihat beliau seraya berkata :
“Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tanganNya, bergembiralah! Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janjiNya kepadaMu.” Salah satu dari doa beliau, “Ya Allah, inilah orang-orang Quraisy yang datang dengan kecongkakan dan kesombongannya untuk mendustakan RasulMu. Ya Allah, tunaikanlah kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, kalahkan mereka esok hari…”

Pertempuran dimuali pada pagi hari tahun kedua hujriyah. Rasulullah mengambil seganggam krikil dan melemparakannya ke arah kaum musyrik seraya berkata, “Hancurlah wajah-wajah mereka!” sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Allah pun mendukung kaum mukmin dengan bala bantuan berupa Malaikat. Akhirnya, kemenangan besar diraih kaum muslimin. Ada 70 musyrikin yang terbunuh dan 70 orang yang tertawan, sedangkan ada 14 orang dari kaum mukminin yang mengapai syahid.


Bentuk Pertolongan Allah Dalam Perang Badar.
Sesungguhnya betapa banyak dan besarnya pertolongan yang Allah berikan bagi pasukan Rasulullah Saw. dalam perang Badar. Betapa janji Allah selalu benar, bahwa Allah Swt. pasti akan menolong hambaNya yang menolong agamaNya. Sejarah telah mencatat rahmat Allah yang menyertai orang-orang yang beriman. Kemenangan sejati selalu ada ketika ia bersandingan dengan iman. Berikut adalah beberapa hal yang menyokong kemenangan yang diraih kaum muslimin.
Sejarah telah mencatat rahmat Allah yang menyertai orang-orang yang beriman. Kemenangan sejati selalu ada ketika ia bersandingan dengan iman

1. Pasukan Malaikat

Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa ketika seorang sahabat mengejar dengan gigih seorang musyrik yang ada di depannya, tiba-tiba ia mendengar suara pukulan dan suara penunggang kuda yang menghentakkan kudanya. Lalu sahabta tersebut melihat orang musyrik itu jatuh tewas terkapar dengan keadaan hidung dan wajahnya terluka berat akibat pukulan keras. Hal tersebut ia ceritaka kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Kau benar, itu adalah pertolongan Allah dari langit ketiga.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

Kemenangan pada perang Badar menjadi pesta di kalangan para malaikat karena peristiwa ini adalah pertama kalinya mereka diizinkan terjun ke gelanggang perang di bawah komando Jibril dengan seribu pasukan malaikat pilihan.

“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Q.S.An Anfal:9)

Para Malaikat yang terlibat dalam Perang Badar memiliki kemuliaan di antara semua malaikat. Rafi’ah bin Rafi’ Az Zarqi mengatakan, “Jibril berkata kepada Nabi SAW dan berkata: Bagaimana kalian menganggap veteran Badar di antara kalian? Rasulullah manjawab: Termasuk muslimin yang paling mulia. Jibril berkata: demikian pula malaikat yang mengikuti perang Badar.”

2. Allah Meneguhkan Hati

“Dan Allah tidak menjadikan (bantuan bala tentara malaikat itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanya dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa Maha Perkasa. (Q.S.Al Anfal:10)

3. Rasa Kantuk dan Turunnya Hujan

“Sesungguhnya Allah manjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk membersihkanmu. Karena dengan air hujan itu, Allah Swt. menghilangkan gangguan syetan darimu dan menguatkan hatimu serta memperteguh kedudukanmu.” (Q.S.Al Anfal:11)

Rasa kantuk yang melanda para mujahid Badar merupakan salah satu nikmat. Mengapa demikian? Karena situasi perang tidak kondusif untuk tidur, guna mengembalikan energi, maka rasa kantuk menjadi suatu terapi dari suasana yang tegang dan mencekam. Karena malam hari bagi kaum musyrikin adalah untuk bersenang-senang, sementara kaum mslimin dikaruniakan rasa kantuk sebagai rangsangan tidur untuk memulihkan kembali tenaga.

Saat itu pun turun hujan baik di tempat kaum muslim maupun kafir. Hal ini berdampak nikmat bagi kaum muslim tetapi menjadi siksaan dan kendala bagi kaum kafir. Contohnya, tanah kaum muslim menjadi padat dan tidak berdebu sehingga menjadi kokoh diinjak dan tidak mengganggu pandangan. Hujan menjadi salah satu bantuan dalam bentuk rahmat yang Allah Swt. turunkan kepada kaum mu’minin dalam pertempuran Badar itu, selain jundun min jundillah atau tentara Allah, sepertia para malaikat yang Allah turunkan untuk mengacaukan pasukan kaum Musyrikin.

Rasulullah saw. dan generasi awal umat ini benar-benar menyadari, bahwa masyarakat paganis ekstrim dari keturunan Quraisy dan semua kelompok yang sejenis dengannya tidak akan pernah membiarkan umat Islam memiliki kebebasan menjalankan Syari’atnya di Kota Yatsrib, setelah sebelumnya mereka diusir beramai-ramai dari Kota Makkah. Dari itu, umat Islam pun mempersiapkan segalanya.
Di Kota Madinah kaum Muslimin mempersiapkan diri dengan membangun kekuatan dengan cara selalu berlatih berperang, agar mereka tidak lagi dilecehkan orang-orang musyrik dan juga kabilah-kabila Yahudi. Sadar akan kekuatan Islam yang selama ini tersebunyi. Hal ini menggetarkan musuh, sehingga musuh tidak menyerang umat Islam di Kota Madinah. Bahkan dengan kekuatan yang dimiliki kaum muslimin ini, masyarakat Quraisy paham bahwa orang-orang Muhajirin yang selama ini lari dari tekanan dan penindasannya, bukan lagi pada posisi yang lemah dan hina. Namun kini mereka telah berubah menjadi satu komunitas yang kuat, dan mampu menggetarkan mereka. Dari itu pasukun Rasululah patut diperhitungkan.

Latihan dan Persiapan Berkala
Rasulullah saw. segera melatih para sahabatnya dan mengutus mereka untuk melakukan pengintaian di sekitar Kota Madinah secara berkala. Tujuannya adalah sebagai latihan, eksplorasi, dan persiapan peperangan. Beberapa tugas yang pernah beliau delegasikan kepada para sahabat antara lain:
1. Pasukan yang dipimpin oleh Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Mereka sebanyak 30 orang penunggang kuda dari kalangan Muhajirin. Pasukan ini ditugaskan berpatroli mengawasi wilayah dari penyelusupan kaum Musyrikin, hingga meliwati daerah Al-‘Iish di tepi laut.
2. Pasukan yang dipimpin oleh ‘Ubaidah bin Harits. Mereka sebanyak 60 orang penunggang kuda dari kalangan Muhajirin sampai ke daerah Raabigh.
3. Pasukan yang dipimpin oleh Sa’d bin Abi Waqqash, dengan kekuatan pengintai berjumlah 80 orang Muhajirin dan bertugas sepanjang jalan yang menghubungkan Makkah dan Madinah.
4. Perang Wuddan. Pasukan yang langsung di bawah pimpinan Rasulullah saw. berjumlah 200 orang penunggang kuda, onta dan pejalan kaki, berjalan memantau wilayah kekuasaan hingga daerah Wuddan. Dalam menjalankan tugas pengawasan wilayah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah terjadi Peperangan Wudan. Pada peperangan ini Rasulullah saw. mengadakan perjanjian dengan Bani Dhamrah. Salah satu tujuan peperangan ini adalah untuk membangun sebuah aliansi dengan kabilah-kabilah yang selama ini menguasai jalur yang menghubungkan antara Kota Makkah dan Madinah.
5. Perang ‘Usyairah. peperangan dengan jumlah pasukan sebanyak 200 orang penunggang dan pejalan kaki di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. Tujuan dari peperangan ini adalah untuk menunjukkan kekuatan kaum muslimin di hadapan orang-orang musyrikin serta membangun kesepahaman dengan kabilah-kabilah yang terdapat di daerah jalur perdagangan orang Quraisy di antara Kota Makkah dan Madinah.
6. Perang Buwaath. Peperangan dengan jumlah pasukan sebanyak 200 orang penunggang dan pejalan kaki di bawah kemimpinan Rasulullah saw. Tujuannya adalah untuk bisa sampai ke daerah Buwaath dari sisi gunung Radhwa ke jalur perdagangan Quraisy di antara kota Makkah dan Madinah, selain untuk menekan kegiatan perdagangan mereka.
7. Pasukan di bawah pimpinan ‘Abdullah bin Jahsy. Pengintaian berkekuatan delapan orang dari kalangan Muhajirin. Bersama itu, ‘Abdullah membawa sepucuk surat dari Rasulullah saw. Beliau berpesan untuk tidak membuka surat tersebut kecuali dua hari setelah mereka melakukan perjalanan. Ketika surat itu dibuka, di dalamnya terdapat tulisan, ”Jika engkau telah membaca surat ini, maka teruslah berjalan hingga engkau sampai di sebuah pohon kurma yang terletak di antara Makkah dan Thaif. Lalu perhatikan gerak-gerik orang Quraisy dan berikan informasinya kepada kami.” Abdullah segera berangkat hingga akhirnya ia sampai di sebuah pohon kurma. Sebuah kafilah Quraisy lewat dan langsung di serang oleh kaum muslimin. Pada peperangan ini, orang-orang musyrikin yang tewas antara lain ‘Amr bin Hadhrami, sementara kaum muslimin berhasil menawan dua orang dari kalangan musyrikin, namun yang keempat berhasil melarikan diri.
8. Perang Badar Pertama. Prediksi Rasulullah saw. dan para sahabat tentang kaum musyrikin benar-benar menjadi sebuah kenyataan. Tak lama setelah beliau menetap di Kota Madinah, orang-orang musyrikin di bawah pimpinan Karz bin Jabir Al-Fihry melakukan penyerangan terhadap ladang pengembalaan hewan milik orang Madinah dan merampas beberapa ekor unta dan kambing milik kaum muslimin. Rasulullah Saw. pun segera bergerak untuk mengusir agresor tersebut dan merebut kembali unta maupun kambing milik kaum muslimin yang sempat mereka rampas. Pasukan perang kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah Saw. ketika itu bergerak sampai ke daerah Wadi Sufyan, dekat dengan Badar. Namun demikian mereka tidak dapat mengejar agresor musyrikin sehingga mereka pun harus kembali tanpa ada peperangan.

Latar Belakang Perang Badar Kubra
Perang Badar yang meletus antar kaum muslimin dan orang-orang musyrik dipicu oleh beberapa sebab, di antaranya:

1. Pengusiran Kaum Muslimin dari Kota Makkah
Genderang perang terhadap kaum muslimin, sebenarnya sudah ditabuh oleh orang-orang musyrikin sejak Rasulullah Saw. menyampaikan risalah dakwah. Mereka telah melakukan penyiksaan terhadap kaum muslimian dan merampas harta benda para sahabat nabi di kota Makkah. Perlakukan mereka terhadap orang-orang Muhajirintidak lagi mengenal prikemanusiaan. Mereka rampas rumah dan kekayaan kaum Muhajirin. Orang Islam pun melarikan diri dan menukarnya dengan keridhoan Allah Swt. Kita dapat melihat sendiri bagaimana orang kafir Quraisy merampas dan menguasai harta benda Shuhaib sebagai imbalannya, Shuhaib diizinkan untuk berhijrah ke Madinah. Kita pun dapat menyaksikan bagaimana mereka menduduki rumah-rumah dan peninggalan kaum muslimin yang ditinggal oleh pemiliknya. Dan kejadian 15 abad yang lalu tak ubahnya seperti yang sedang mereka lakukan di Palestina, Afganistan, Irak dan negara-negara Islam lainnya.

2. Penindasan Terhadap Umat Islam Hingga Kota Madinah
Apa yang dilakukan orang Quraisy terhadap umat Islam, ternyata tidak hanya ketika mereka berada di Kota Makkah. Di bahwa pimpinan Kurz bin Habbab Al-Fihri, mereka memprovokasi kaum musyrikin lainnya untuk menyerang, menteror, dan menguasai harta benda milik kaum muslimin yang ada di Kota Madinah (sebagaimana yang terjadi pada Perang Badar Shughra). Oleh karena itu, sudah sewajarnya apabila orang-orang musyrik menerima balasan atas semua permusuhan dan penindasan mereka terhadap umat Islam selama ini. Mereka begitu sadar, bahwa banyak kepentingan dan hasil perdagangan mereka yang akan berpindah ke tangan orang-orang Islam di sana, selain bahwa kini Islam telah memiliki pasukan dan wilayah yang mampu memberikan perlawanan atas kewenang-wenangan, menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan meskipun orang-orang yang berhati durjana tidak menyukainya.

3. Memberi Pelajaran Kepada Quraisy
Oleh karena itu, begitu Rasulullah saw. mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dan ‘Amr bin Al-‘Ash bersama 40 orang bergerak dari Syam membawa harta orang-orang Quraisy yang keseluruhannya mencapai seribu ekor unta, maka beliau pun segera mengajak kaum muslimin untuk bergerak mendatanginya. Rasulullah saw. mengatakan, ”Ini adalah perdagangan Quraisy. Maka keluarlah kalian, semoga Allah swt. akan memberikannya kepada kalian.” Mendengar seruan ini, sebagian kaum muslimin menyambutnya sementara yang lainnya merasa sedikit berat dengannya. Mereka menggangap bahwa ketika itu Rasulullah saw. tidak bermaksud mengumandangkan sebuah peperangan. Karena beliau mengatakan, ”Barangsiapa yang saat ini memiliki tunggangan, maka hendaklah ia ikut bersama kami.” Beliau tidak menunggu sahabat yang tunggangannya tidak ada pada saat itu.


Hasil Perang Badar

Perang Badar (dengan seluruh hasil yang ia torehkan bagi sejarah harakah Islamiah maupun sejarah umat manusia seluruhnya) telah menjadi sebuah pelajaran yang sangat jelas sekali bagi harakah Islamiah maupun bagi perjalanan sejarah ke depan. Allah swt. menyebut hari itu dengan nama “yaumul furqan yaum iltaqa al-jam’an” atau hari pembeda, hari dimana dua kekuatan bertemu. Peperangan ini sendiri memberikan beberapa buah hasil penting antara lain:

1. Perang Badar merupakan pembatas di antara dua ikatan dan menjadi pembeda antara yang haq dan yang bathil. Kekuatan umat Islam semakin kuat sehingga dataran Arab pun turut memperhitungkannya. Kebenaran muncul di permukaan dengan rambu-rambu akidah dan prinsip-prinsip dasar yang dibawanya.
2. Tergoncangnya kedudukan Quraisy di mata orang Arab serta kegalauan penduduk Makkah di hadapan tamparan yang tak diduga tersebut.
3. Tampilnya umat Islam sebagai sebuah kekuatan yang memiliki arti dan pengaruh. Hal ini menyebabkan banyak kabilah yang tinggal di sepanjang jalur Makkah dan Syam membuat perjanjian kesepakatan dengan mereka. Dengan demikian kaum muslimin sudah berhasil menguasai jalur tersebut.
4. Sebelum Perang Badar meletus, kaum muslimin mengkhawatirkan keberadaan orang-orang non muslim yang tinggal di kota Madinah. Namun setelah mereka kembali ternyata kenyataannya justru sebaliknya.
5. Semakin bertambahnya kebencian orang-orang Yahudi terhadap umat Islam. Sebagian mereka mulai menunjukkan permusuhannya secara terang-terangan. Sementara yang lainnya menjadi agen yang membawa berita seputar perihal kaum muslimin kepada orang-orang Quraisy serta memprovokasi mereka untuk menyerang umat Islam.
6. Aktivitas perdagangan Quraisy menjadi semakin sempit. Akhirnya mereka terpaksa menapaki jalur Irak melalui Najd karena takut apabila dikuasai oleh orang-orang islam. Dan jalur ini merupakan jalur yang panjang.
7. Pada Perang Badar, 14 orang dari kalangan umat Islam gugur sebagai syuhada; 6 orang dari kalangan Muhajirin dan 8 orang dari kalangan Anshar. Sementara dari pihak orang musyrikin tewas sebanyak 70 orang dan 70 orang lagi berhasil ditawan. Kebanyakan dari mereka adalah pemuka dan pembesar Quraisy.

Menelusuri Akar Ideologi Penistaan terhadap Islam

Menelusuri Akar Ideologi Penistaan terhadap Islam [Indonesiaku Islam] - Setelah sekian kalinya Barat melakukan penistaan terhadap Islam, dapatkah kaum Muslim berharap bahwa Barat akan mengadili secara adil pelaku penistaan agama? Atau setidaknya, mengakui kesalahannya?
Menelusuri Akar Ideologi Penistaan terhadap Islam, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Homoseksualitas di Yunani dan Roma dalam buku yang diedit oleh Thomas K. Hubbard
Menelusuri akar dari alam pemikiran Barat modern, khususnya persepsi terhadap Islam dan Nabi Muhammad saw, tampaknya harapan atau tuntutan itu akan pupus. Pasalnya, dia berbenturan dengan fakta alam pemikiran Barat. Barat, sebagai sebuah peradaban, adalah kemanusiaan yang angkuh dan tidak mengenal moral. Meminjam bahasa pemikir Islam modern, Ja’far S. Idris, Barat adalah peradaban yang bercorak nilai-nilai “syirik, istikbar (arogansi), dan fuhsy (kerusakan moral)” (2012: 142).

Peradaban Barat modern adalah “anak ideologis” dari peradaban Yunani dan Romawi. Dua peradaban kuno yang menjadikan konflik dan kerusakan moral inheren dalam cara pandangnya terhadap dunia dan kehidupan.

Dalam peradaban Yunani kuno, misalnya, terdapat puisi epik Odyssey dan Iliad (11-8 SM). Mitologi dalam puisi yang kontroversi tersebut berkisah tentang perselingkuhan yang terjadi dalam istana dari dua negara yang berbeda. Kasus yang sebenarnya sangat elitis dan jauh dari hiruk-pikuk masyarakat umum. Namun ironi, keserakahan dan konflik dalam istana itu berujung pada perang besar dengan jumlah korban nyawa yang tak terbatas.

Peristiwa yang dinarasikan terjadi dalam beberapa dekade itu sendiri sarat dengan kisah intrik, affair, serta keserakahan hawa nafsu kebinatangan. Walaupun para aktornya adalah para manusia pahlawan yang setengah dewa, bahkan para dewa pun ikut terlibat.

Friksi digambarkan terjadi dalam pemberian dukungan terhadap salah satu kubu yang berseteru. Mitologi ini kelak mengilhami hampir seluruh karya sastra Barat klasik selanjutnya.

Sebagai sebuah peradaban yang politeistik, bahkan dalam aspek tauhid Rububiyah, kebudayaan Yunani rabun dalam hal kesopanan berpakaian. Kenyataan tersebut dengan mudah dapat dibuktikan lewat situs-situs, baik berupa patung, ukiran atau atau lukisan yang menggambarkan dewa-dewa dan pahlawan serta wanita dalam tradisi peradaban Yunani. Penonjolan terhadap kulit dan bentuk tubuh serta nudity merupakan ciri yang sangat dominan melekat pada situs-situs tersebut.

Kajian sosiologi budaya menjelaskan korelasi yang kuat antara mitologi suatu masyarakat dengan pola pikir yang berkembang. Sebab, mitologi merupakan diskripsi abstrak tentang nilai-nilai budaya sebuah komunitas.

Akibatnya, dalam tradisi peradaban Yunani, penyimpangan seksual merupakan hal yang lazim. Penyakit kemanusiaan ini tidak hanya menular di kalangan elit istana yang memang hedonis dan permisif. Tapi juga di kalangan para pemikir dan filosof yang dianggap sebagai simbol-simbol kecemerlangan dan kebijaksanaan. K. J. Dover merupakan salah satu sejarawan Barat awal yang berhasil mengeksplorasi fenomena tersebut dalam bukunya: Greek Homosexuality (1978).

Peradaban Romawi dengan sejarah geografis imperiumnya yang luas merupakan referensi lainya dari peradaban Barat modern. Sejumlah bahasa Eropa, undang-undang, sistem politik, bahkan arsitektur Barat modern banyak mengambil inspirasi dari kejayaan Romawi kuno.

Kita sendiri lebih banyak mengenal kekaisaran Romawi dengan invasi besar-besarannya yang dimulai tahun 264 SM. Namun, puncak kebesaran Romawi yang juga menandakan keberhasilan perangnya terjadi di abad ke-2 M. Saat itu, garis kekuasaan Romawi membentang ke hampir setengah daratan Eropa, kemudian memanjang ke Timur Tengah dan utara Afrika.

Peradaban Romawi, lantaran itu, tidak lebih manusiawi daripada Yunani. Faktanya, kebesaran Romawi tumbuh subur di atas siraman darah jutaan manusia tak berdosa yang menjadi korban perangnya. Kurang lebih lima abad invasi Romawi untuk mencapai puncak kejayaannya.

Strategi “preemptive war” yang diterapkan AS dalam agenda perang globalnya melawan terorisme sejatinya merupakan strategi klasik kekaisaran Romawi. (Amir Abd Mun’im, 2007: 11)

Romawi telah lebih dulu mempraktekkan strategi tersebut terhadap negara-negara lain. Bahkan setelah imperium ini menyatakan diri sebagai imperium Nasrani, semangat invasinya tidak surut. Dengan dalih untuk menciptakan perdamaian, imperium ini selalu punya alasan untuk menganeksasi kedaulatan negara lainnya.

Dalam konteks sikap terhadap Islam dan simbol-simbol Islam, Barat menjadikannya sebagai objek dari spirit konflik dan sikap a moralnya. Fenomena penistaan terhadap Islam dan simbol-simbol Islam sesungguhnya bukan hal baru di Barat. Hanya saja, momentum pesatnya pertumbuhan Islam yang memicu tereksposnya kasus-kasus tersebut ke media publik.

Basim Khafaji, peneliti dari Markaz Arabi li Dirasat Insaniyah Kairo yang mengkaji akar permusuhan Barat terhadap Nabi Muhammad saw, menulis:
Stereotip tentang Nabi Muhammad saw dalam pemikiran Barat terbentuk lewat pengalaman sejarah Eropa terhadap Islam. Para pemikir Eropa, baik itu dari kalangan agamawan dan selainnya, punya saham dalam mendesain persepsi tentang Islam agar menjadi agama yang dibenci oleh publik. Itu semua demi mempertahankan status quo, agar Eropa tidak jatuh kepada kekuatan Islam, kepada pesona moralitas dan konsepnya yang memikat. (2006: 55)

Fenomena penistaan terhadap Islam yang belakangan banyak terkuak ke publik global hanya merupakan bukti bahwa Barat sudah kehilangan akal sehatnya. Gejala paranoia telah menimpa Barat, khususnya dalam menghadapi perkembangan Islam. Dan itu terjadi justru di saat peradaban Barat modern tampak lebih tua daripada usia yang sesungguhnya.

Kolumnis Vienna, Ivan Krastev pernah membuka awal tahun 2012 dengan menurunkan gambaran sedih tentang kondisi Barat:
Berpikir tentang masa depan, bagi kebanyakan orang Eropa, akan membawa kepada frustrasi berat. Amerika telah lelah secara militer, pecah secara politik, dan terjepit oleh beban utang yang berat. Di sisi lain, Uni Eropa sedang berada di tepi jurang kehancuran. Banyak manusia selain Eropa melihat ke benua tua itu sebagai kekuatan yang telah renta. Dia bisa jadi memesona dengan perilakunya yang baik, tapi tidak dengan keberanian dan ambisinya.

Fenomena ini semakin menambah keyakinan kita bahwa betapa Maha benar firman Allah:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS: al Isra [17]: 16)
Penulis adalah Direktur CODE-I (Center for Middle-East’s Issues)

Mengenal Kain Ka'bah dan Proses Pembuatannya

Mengenal Kain Ka'bah dan Proses Pembuatannya [Indonesiaku Islam] - Sepotong kain bisa berubah menjadi azimat. Dulu, imajinasi kanak-kanak saya mempercayai hal itu. Ketika menonton seorang jawara di pasar malam yang sama sekali tak terluka setelah menyabetkan parang berulang-ulang ke tubuhnya sendiri, anak-anak bersorak. Mereka begitu percaya pada kabar yang ditiupkan: ilmu kebal sang jawara didapat dari jimat yang tersimpan di ikat pinggangnya. Apa itu? Kain Ka'bah.
Mengenal Kain Ka'bah dan Proses Pembuatannya, kain ka'bah, sejarah kain ka'bah, proses pembuatan kain ka'bah, kain ka'bah kiblat, kain ka'bah suci, tentang kain ka'bah
Mengenal Kain Ka'bah dan Proses Pembuatannya
Saya tak tahu entah diapakan sobekan kiswah atau kain Ka'bah itu sehingga tubuh pemakainya tak pernah berdarah. Seseorang menyebutkan kain itu dicelupkan ke air putih sebelum air ini ditenggak sang jagoan. Entah sudah berapa puluh kali  “air sakti” itu diminum sehingga kain tersebut tampak putih kusam. Tak terpikir dalam benak kanak-kanak bahwa mustahil selubung Ka'bah tersebut berwarna putih, kecuali selebritas pasar malam tersebut hidup di zaman Nabi Muhammad yang memang memilih kain putih dari Yaman untuk menutup Ka'bah.

Bagaimana mungkin ia bisa menyobek kiswah yang sebenarnya tebal itu? Kiswah juga tampak begitu kuat dengan cincin-cincin yang mengunci di kaki-kaki bangunan Ka'bah yang bertinggi 14 meter itu. Di sekeliling Ka'bah, polisi dengan mata nyalang juga mengawasi dengan ketat setiap anggota jemaah yang berbuat ganjil. Setiap bidah yang bisa menggiring kepada kemusyrikan tak mendapat tempat di Tanah Suci.

Tapi, apa yang mustahil di tangan anak-anak? Semua tampak hidup di alam pikiran anak-anak. Dalam alam pikiran para bocah ini, rebusan kain ini tak cuma punya tuah ilmu kebal, tapi juga bisa menyembuhkan rupa-rupa penyakit. Pendek kata, kain ini tergolong jimat sapu jagat. Semua bisa, meski tak pernah terbuktikan.
Imajinasi kanak-kanak yang mengundang senyum inilah yang muncul kembali dalam ingatan ketika saya mengunjungi pabrik pembuatan kiswah di kawasan Ajyad di Mekah, Arab Saudi, pertengahan April lalu.

Kunjungan ini dilakukan setelah 22 orang pengajar universitas dan pesantren dari berbagai daerah yang diundang Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia melaksanakan ibadah umrah pada pertengahan April lalu.
Saya jelas punya kesempatan lebih besar dibanding jawara pasar malam itu untuk mendapatkan potongan kiswah. Tak cuma melihat, saya bisa memegangnya langsung, nyaris tanpa pengawasan. Saya juga dengan mudah bisa mengambil gulungan benang sutra, bahan pembuatan kiswah, dari puluhan mesin pemintal yang berbaris rapi di pabrik yang telah berdiri selama 30 tahun itu. Saya bisa merasakan kelembutannya, bahkan mencium aroma pintalannya. Saat itu, kesempatan menggenggam “ilmu kebal” benar-benar berada di depan mata.

Tapi saya justru lebih terpesona menyaksikan gerakan puluhan seniman yang menyulam secara manual kain tersebut ketimbang tenggelam dalam mitos masa kecil. Ada 285 karyawan, dari yang bertugas menenun, memberi warna hitam, emas, dan perak, lalu membuat kaligrafi, merajut kain dasar, kemudian memprogram kalimat-kalimat tauhid di komputer sebelum ditorehkan ke permukaan kain, hingga tugas para penyulam itu. Mereka tampak khusyuk menikmati setiap jalinan benang yang ditisikkan ke dalam kain hitam.

“Mereka bekerja penuh konsentrasi, tak boleh salah,” kata Ali bin Suud, juru bicara pabrik kiswah yang berada di bawah Jawatan Wakaf Kerajaan Arab Saudi itu. Saya melihat tak jauh dari Ali, seorang karyawan yang terbatuk-batuk dan menghentikan pekerjaannya. Segera terpikir, ia yang sehari-hari menyentuh kain yang dalam bayangan masa kecil seharusnya “menyembuhkan” itu ternyata terserang flu. Ah, berantakan sudah imajinasi yang telah bertahan bertahun-tahun.

Di pabrik dengan luas 10 hektare itu, 85 penyulam bekerja menyelesaikan dua kiswah setiap tahun. Satu kiswah dipasang di bangunan yang menjadi kiblat umat Islam seluruh dunia itu. Tingginya 14 meter dan memiliki lebar 7,5 meter pada tiap sisinya. Jadwal pemasangan kiswah itu selalu tetap: tiap tanggal 9 Zulhijah, ketika jemaah haji berangkat ke Arafah untuk memulai rangkaian ibadah haji. Kiswah satu lagi? “Jadi cadangan, digunakan jika kain yang pertama cacat atau robek ketika dipasang.”

Puluhan seniman itu menyulam selama 8,5 bulan. Mereka mengerjakannya dalam 47 potong kain. Sebagian mengerjakan potongan kain yang bertulisan kalimat syahadat, sebagian lagi menyulam surat Ali Imran ayat 96, Al-Baqarah ayat 144, surat Al-Fatihah, dan surat Al-Ikhlas. Ada pula yang merajut asma-asma Allah yang dimuliakan. “Pengerjaannya per bagian, lalu dijahit menjelang dipasang di Ka'bah,” kata Ali.

Seluruh proses itu membutuhkan 999 gulung benang sutra yang jika dibentangkan panjangnya lebih dari satu kilometer per benang. Berat benang sutra tersebut mencapai sekitar 670 kilogram. Ini belum termasuk bordir yang berisi 15 kilogram benang emas. Lantaran menggunakan bahan baku yang sangat berharga seperti sutra, emas murni, maupun perak, harga produksi kiswah pun sangat mahal, sekitar Rp 50 miliar!

Dari mana sutra-sutra mahal itu didapat? “Sutra diimpor dari Italia, mesin pemintalnya dari Swiss,” kata Ali. Sutra terbaik Italia berpusat di Provinsi Firenze, sebuah daerah yang sering disebut sebagai “ibu kota Eropa untuk komoditas sutra dan wol”. Firenze, yang berpusat di Florence, tak seperti kota Roma yang menyerap semua unsur-unsur Romawi kuno maupun modern. Firenze menolak semua pengaruh non-Renaissance. Firenze pernah menjadi ibu kota Italia di abad ke-19.

Jika kini pemerintah Saudi lebih memilih Italia sebagai “kiblat” sutra buat kain Ka'bah, penguasa tanah Hijaz (Arab Saudi) zaman dulu ternyata memilih kain dari Yaman, Irak, atau Mesir. Ka'bah pertama kali “berpakaian” pada 2.500 tahun silam, ketika suku Jurhm dari Yaman menguasai tanah Hijaz. Raja Tuba dari Hymir, Yaman, memasang kiswah berwarna merah yang didatangkan dari negeri itu.

Pada zaman leluhur Muhammad, pemasangan kiswah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy. Keluarga Abdul Muthalib, kakek nabi yang mendapat amanat menjaga Ka'bah, menyelubungi Ka'bah dengan kain putih dari Yaman. Pemasangan kain itu bertujuan melindungi dinding Ka'bah dari kotoran, debu, serta panas. Kiswah juga berfungsi sebagai hiasan.

Ketika Mekah diambil oleh kaum muslimin, mereka memutuskan untuk menanggalkan kiswah. Tapi kebakaran besar di sekitar Ka'bah membuat Nabi kembali memerintahkan agar Ka'bah dibungkus dengan kain putih dari Yaman. Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman mengikuti tradisi menyarungi Ka'bah dengan memilih kain Koptik berwarna putih dari Mesir. Situs Emel.com menulis, kain halus ini dihasilkan oleh keturunan Kristen dari masyarakat Mesir kuno. Saat itu komunitas Kristen Koptik memang dikenal sebagai perajin kain dengan cita rasa seni yang tinggi.

Berikutnya, seiring bergantinya khalifah, Ka'bah pernah bersalin baju dengan rupa-rupa warna: merah, kuning, hijau, dan hitam. Jadwal pemasangannya pun pernah di bulan Muharam dan Ramadan. Namun, sejak Khalifah al-Mamun dari Dinasti Abbasiyah berkuasa, warna kiswah ditetapkan tak berubah dari waktu ke waktu: hitam. Lalu, pada 1340, tradisi pembuatan bordir diperkenalkan oleh penguasa Mesir.

Sumber: Yahoo!

Benteng-benteng Peninggalan Kerajaan Islam

Benteng-benteng Peninggalan Kerajaan Islam [Indonesiaku Islam] - Peradaban Islam di era kejayaan dikenal memiliki teknologi militer yang sangat tangguh. Salah satu peninggalan militer Muslim di masa kekhalifahan adalah benteng-benteng pertahanan. Kemegahan benteng-benteng peninggalan peradaban Islam di abad pertengahan itu ada yang masih berdiri kokoh serta ada pula yang telah musnah.

Berikut ini Benteng-benteng Peninggalan Kerajaan Islam

Benteng Salahudin

benteng salahudin, Benteng-benteng Peninggalan Kerajaan Islam, benteng peninggalan islam, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Benteng Salahudin
Orang Barat biasa menyebutnya, The Citadel of Saladin. Menurut catatan sejarah, The Citadel dibangun oleh panglima perang Muslim terkemuka bernama Salahudin Al-Ayubi dari Dinasti Ayubiyah pada 1170 M. Benteng Salahudin dibangun di atas bukit Muqatam yang terletak di antara kota Kairo dan Fustat, Mesir.

Karena letaknya di atas bukit, setiap orang yang datang ke Citadel bisa menikmati keindahan pemandangan seluruh penjuru kota Kairo. Bahkan, Piramida dan Giza peninggalan raja-raja Mesir pun bisa terlihat dari Benteng Salahudin.

Salahudin membangun Citadel sebagai tempat latihan militer serta melindungi Mesir dari serangan Pasukan Salib. Kala itu, memang tengah berkobar Perang Salib. Salahudin pun berinisiatif untuk membangun benteng pertahanan untuk membendung serangan tentara Perang Salib yang berusaha menguasai kembali Yerusalem Tanah yang dijanjikan Tuhan dari kekuasaan orang-orang Muslim.

Perang Salib juga dipicu ambisi Kekaisaran Bizantium untuk melawan ekspansi Dinasti Seljuk yang beragama Islam ke Anatolia. Pada masa kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani, Citadel juga sempat menjadi tempat bermukim dan berlindung Raja Muda Turki. Dia juga membawa pasukannya untuk bertahan di benteng tersebut selama masa Perang Salib.

Benteng peninggalan Sang Panglima Perang Agung Salahudin al- Ayubi itu sempat dilupakan dan tidak terurus hingga pada masa kekuasaan Dinasti Mamluk. Namun pada abad ke-14 M, Citadel yang telah berjasa melindungi Mesir dari Pasukan Salib mulai diperhatikan dan dirawat.

Bahkan Sultan El-Nasser Mohamed mulai membangun sejumlah bangunan-bangunan lain di sekitar benteng tersebut seperti Masjid. Saat ini, Citadel juga menjadi tempat latihan militer Mesir .

Benteng Ajyad

benteng ajyad, Benteng-benteng Peninggalan Kerajaan Islam, benteng peninggalan islam, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Benteng Ajyad
Benteng Ajyad merupakan benteng yang dibangun penguasa Turki Usmani di kota Mekkah pada 1775 M. Benteng tersebut dibangun untuk melindungi Ka'bah dan kota Mekkah dari serangan para pendatang.

Benteng tersebut meliputi 23 ribu meter persegi pegunungan Bulbul. Namun benteng tersebut sudah dimusnahkan pada tahun 2002 yang lalu untuk sebuah proyek pembangunan Abraj Al Bait Towers yang terdiri dari apartemen, hotel bintang lima, maupun pusat perbelanjaan.

Pemusnahan Benteng Ajyad yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi umat Muslim diprotes keras oleh pemerintah Turki. Namun pemerintah Saudi Arabia tetap memperbolehkan kelanjutan proyek itu. Selain itu, meskipun benteng Ajyad memiliki nilai historis tetapi benteng tersebut tidak termasuk bangunan-bangunan bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO.

Benteng Al-Ukhaider

Benteng Al-Ulhaider, Benteng-benteng Peninggalan Kerajaan Islam, benteng peninggalan islam, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Benteng Al-Ukhaider
Benteng Al-Ukhaider terletak di padang pasir berjarak 48 km dari kota Karbala dan 150 km di selatan kota Baghdad, Irak. Benteng al-Ukhaider I merupakan salah satu benteng yang paling indah dari jejak-jejak peninggalan kekuasaan Muslim. Tembok luar dari benteng tersebut masih lengkap dan terawat dengan baik.

Benteng ini dibangun oleh salah seorang pemimpin dari Dinasti Abbasiyah yang pernah berkuasa di Irak yakni Isa ibn Musa pada 774 hingga 775 M. Di dalam benteng tersebut juga dibangun masjid dan tempat tinggal semacam aparteman. Arsitektur dari benteng tersebut sangat indah dan sangat menggambarkan arsitektur Islam.

Pada saat terjadinya perang Teluk yang terjadi antara Irak dan Kuwait pada 1991, benteng tersebut pernah diserang oleh dua pesawat terbang. Namun benteng peninggalan Dinasti Abbasiyah tersebut tetap berdiri dengan kokohnya tanpa ada kerusakan yang cukup berarti. Hal ini merupakan bukti kemampuan teknik bangunan yang tinggi dari arsiteknya.

Pada zaman dulu, benteng Al Ukhaider sering menghubungkan antara Irak dengan dunia luar. Selain itu, banyak para kafilah, pedagang dan orang-orang nomaden seperti Atshan dan Mujdah yang sering singgah di benteng tersebut. Selain untuk singgah, benteng tersebut juga berfungsi melindungi wilayah-wilayah di sekitarnya dari serangan orang asing.

Benteng Alamut

Benteng alamut, Benteng-benteng Peninggalan Kerajaan Islam, benteng peninggalan islam, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Benteng Alamut
Benteng Alamut dibangun pada 840 M di atas Gunung Alborz pada ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut yang terletak di selatan Laut Kaspia dekat Provinsi Qazyin. Benteng tersebut terletak 100 km dari kota Teheran, Iran.

Alamut sendiri merupakan bahasa Persia yang artinya sarang burung Rajawali. Kemungkinan nama tersebut diberikan untuk menggambarkan betapa kokohnya benteng tersebut. Benteng Alamut memang dirancang didirikan di atas gunung untuk menyulitkan para penyerang datang menghancurkan benteng tersebut.

Untuk memasuki benteng tersebut, para penyerang harus melewati lereng-lereng yang terjal dan licin yang sangat berbahaya. Benteng yang panjangnya 400 meter tersebut juga memiliki sistem suplai air yang berbeda dari benteng-benteng lainnya. Sebenarnya, benteng Alamut memang didirikan untuk menahan serangan dari bangsa Seljuk.

Pada 1090 M, Hassan-i Sabbah seorang komandan dari Persia menguasai Benteng Alamut, bahkan dia juga membangun sejumlah taman dan perpustakaan di dalam benteng tersebut. Namun pada Desember 1256 M, pasukan Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan datang dan berusaha menghancurkan benteng tersebut. Tetapi benteng tersebut tetap tidak terkalahkan.

Benteng Alamut rusak parah akibat terjadinya gempa bumi di Iran pada 2004.. Dinding-dinding benteng tersebut runtuh. Untuk memperbaiki benteng yang menjadi salah satu peninggalan peradaban Islam tersebut membutuhkan waktu yang panjang, sekitar 10 tahun.

Hikayat Berdirinya Benteng di Tanah Arab

Sebelum datangnya Islam, peradaban Arb tak mengenal tradisi pembangunan benteng pertahanan. Menurut Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk Islamic Technology: An Illustrated History, mengungkapkan, kota yang memiliki tembok-tembok penting pra-Islam hanyalah Thaif dan Hijaz.

Seiring berkembangnya agama Islam di Semenajung Arab, benteng pertahanan mulai dibangun di mana-mana. Hal ini terjadi karena adanya perkembangan militer di dunia Islam pada masa-masa penaklukan oleh para Kalifah. Selain itu, pada masa kekalifahan, banyaknya perang di berbagai wilayah mendorong terjadinya pertukaran gagasan antara dunia Islam dengan dunia Barat seperti Byzantium dalam strategi militer.

Ide-ide militer yang melintas antara dunia Islam dan Barat membuat para arsitektur militer dan para ahli strategi membuat berbagai macam teknik pertahanan, salah satunya dengan membangun benteng pertahanan.

Benteng memang perlu dibuat untuk mempertahankan diri dari serangan musuh guna mempertahankan wilayah kekuasaan. Selain itu, benteng juga dibentuk untuk mengawasi rumah-rumah pemimpin yang ada di sekitar lingkungan benteng dari berbagai macam ancaman.

Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Hasyr ayat 14, Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, orang-orang kafir tidak mungkin berani memerangi tentara Islam kecuali mereka berlindung di balik benteng-benteng. Kemudian mereka akan bertempur guna mempertahankan diri dalam keadaan terpaksa. Dari ayat tersebut, maka Allaah juga menggambarkan arti penting benteng guna perlindungan diri dari serangan lawan.

Pada masa itu, sebagian besar kota-kota di negara Islam memiliki benteng yang di luarnya memiliki parit. Parit tersebut memiliki fungsi sebagai pertahanan guna mencegah musuh menggali fondasi benteng untuk merontokkan benteng. Di kota-kota Islam yang lebih besar, benteng tidak hanya satu saja, namun terdiri dari beberapa lapis seperti di kota Hisn, Quhandiz, dan Qal'a.

Benteng memiliki bentuk yang bermacam-macam, bisa berupa menara sederhana yang disebut dengan burj, tetapi ada juga yang berbentuk kastil yang terbuat dari batu-batuan yang memiliki dinding sangat sangat besar dan tebal. Bangunan kastil ini biasanya mempunyai persediaan air dan gudang makanan yang melimpah ruah. Pasalnya kastil memang dibangun untuk melakukan pertahanan diri selama berbulan-bulan pada masa peperangan.

Tipe benteng pertahanan Muslim pada masa kekhalifahan adalah ribat yakni sebuah kastil yang ditinggali oleh para serdadu atau pasukan pilihan yang memiliki kemampuan militer luar biasa. Biasanya, ribat dibangun di sepanjang jalur perbatasan, jalan-jalan utama bahkan di garis pantai di wilayah kekuasaan.

Salah satu contohnya adalah Kastil Allepo di Suuriah yang dibangun pada abad ke-13. Sedangkan komunikasi militer antara Khalifah dengan panglima perangnya di medan perang biasanya disampaikan oleh kurir yang menunggani unta di sebuah barid berupa pelayanan pos reguler.

Pejabat Negara yang Selalu Menjaga Wudhu

Pejabat Negara yang Selalu Menjaga Wudhu [Indonesiaku Islam] - Siapa sangka, pejabat negara yang memiliki julukan Nizham Al-Mulk (Penyangga Kerajaan) dalam pemerintahan Bani Saljuk itu dulunya berasal dari keluarga miskin. Tidak berselang lama, setelah kelahirannya tahun 408 H, ibunya wafat. Ayahnya yang ditunjuk menjadi dahqan (lurah), di wilayah Baihaq juga memperoleh gaji yang tidak mencukupi, hingga Nizham Al-Mulk kecil harus disusukan kepada para wanita penyusu tanpa upah.
Pejabat Negara yang Selalu Menjaga Wudhu, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Pejabat Negara yang Selalu Menjaga Wudhu
Kesusahan hidup Nizham semakin terasa setelah ayahnya wafat di saat ia belum baligh, hingga ia harus tumbuh dalam keadaan yatim piatu. Akan tetapi, tokoh yang bernama lengkap Abu Ali Al-Hasan bin Ali bin Ishaq At Thusi ini memiliki tekad baja. Dalam keadaan miskin, sekuat tenaga ia berusaha menuntut ilmu. Fiqih madzhab As Syafi’i, Bahasa Arab, Hadits, al-Qur`an, bahkan sampai Bahasa Persia ia pelajari.

Jarih payahnya itu berbuah, di masa mudanya ia memiliki banyak kemampuan. Ia mahir dalam ilmu hitung, tulis-menulis dan manajemen, sampai akhirnya Daulah Ghaznawiyah mengangkatnya sebagai pegawai. Karena kecakapan yang dimilikinya, tak berapa lama statusnya naik menjadi sekretaris Ali bin Syadzan, pejabat Bani Saljuk untuk kawasan Balakh. Posisi tersebut menjadikan Nizham saat itu menjadi semakin dekat dengan penguasa Bani Saljuk.

Alba Arsalan, sebelum ia naik tahta sebagai Sultan Saljuk, mengangkat Nizham sebagai sekretaris pribadinya. Tak hanya itu, Nizham juga diambil sebagai anak angkat calon penguasa besar tersebut. Begitu Alba Arsalan menjadi Sultan, Nizham diangkat sebagai menteri.

Ideolog Negara

Bukan hanya memposisikan diri sebagai pembantu Sultan, Nizham juga berperan sebagai peletak konsep dasar negara. Bagi Nizham, dien (agama) dan negara adalah dua saudara kembar, yang tidak bisa dipisahkan.

“Ketika pemimpin rusak, maka agama menjadi terancam. Demikian pula jika agama yang rusak, maka kedaulatan akan terganggu, banyak perusak yang mengancam serta kekuatan para pemimpin menjadi lemah dan menyebarnya bid’ah.” Demikian kata Nizham dikutip dari Siyasat-namah yang ditulis dalam Bahasa Persia.

Nizham, dalam kitab yang memiliki nama Arab Siyar Al-Mulk (Tradisi Raja-raja) ini ditulis bahwa ia juga selalu melakukan evaluasi terhadap pemerintahan Bani Saljuk, sekaligus memberi jalan keluar, yang didasari pengalaman-pengalaman pemerintahan pada masa-sama sebelumnya. Sultan Maliksyah, setelah menggantikan Alba Arsalan mengatakan, “Aku telah menjadikan kitab ini sebagai imam dan aku akan melangkah sesuai dengannya.”

Yang juga ditulis Nizham dalam Siyasat-namah adalah nasehat kepada para penguasa agar mensyukuri nikmat Allah berupa kekuasaan yang diberikan kepadanya. Cara mensyukurinya dengan berbuat adil dan tidak menzalami rakyatnya.

Untuk mengontrol bawahan dan musuh, Wazir (menteri) Nizham juga memberi nasehat kepada para penguasa agar mengandalkan intelijen dan barid (pengantar surat), untuk mengetahui kondisi rakyatnya dan para pejabatnya. Juga untuk mengetahui kondisi musuh dan gerakan mereka.

Dalam pasal 32-39 kitab Siyasat-namah, Nizham juga menjelaskan bagaimana seharusnya penguasa berinteraksi dengan para tokoh di masyarakat.

Mengenai para penganut sekte sesat, seperti Ismailiyah, Nizham memberi nasehat kepada penguasa agar mereka tidak diangkat sebagai pejabat, karena hal ini bisa mengancam stabilitas negara. Mereka berusaha untuk mengubah pemerintahan dengan pemerintahan model Persia. Bahkan di masa Maliksyah, selama 20 tahun tugas-tugas Sultan dilaksanakan oleh sang menteri, karena saat itu Sultan lebih suka bersenang-senang dan berburu.

Diplomat Ulung

Walau berkedudukan sebagai menteri, Nizham memiliki akses lebih kuat dibanding Sultannya dengan pusat kekhalifahan di Baghdad. Ketika ada keinginan dari Bani Saljuk untuk melepaskan diri dari Baghdad, maka Nizham berupaya mencegahnya. Secara diam-diam ia menghubungi Baghdad, dan meminta agar mereka memperhatikan apa yang diinginkan Kesultanan Bani Saljuk. Sehingga para sejarawan menyebutkan bahwa Kekhalifahan Baghdad lebih takut pada Nizham dibanding Sultannya.

Terapkan Syariat

Para pembesar Bani Saljuk berketurunan Turki sangat gemar berperang, namun tidak memiliki pengetahuan tentang syariat dan bahasa Arab dengan baik. “Kami adalah kaum baru dan asing, kami tidak memiliki pengetahuan mengenai syariat,” kata Tughrul Bek, pendiri Bani Saljuk. Tugas Wazir Nizham kemudian menguatkan pemerintahan mereka dengan syariat.

Hasilnya, tidak lama kemudian, praktek mukus alias pungli yang amat membebani rakyat dilarang. Tidak sampai di situ, ia sendiri mendirikan mejelis pengaduan, dan ikut menyimak keluhan rakyat. As Subki, seorang ulama bersejarah menggambarkan majelis pengaduan itu. “Jika duduk di majelis pengaduan, ia (Nizham Al-Mulk) menegakkan hukum dengan al-Qur`an dan As Sunnah. Dengan kewibawaanya, ia menakut-nakuti setiap penzalim hingga tidak ada lagi ketakutan. Rakyat tidak khawatir lagi terhadap pejabat zalim.”

Dekat dengan Rakyat

As Subki menyebutkan, suatu saat di majelis pengaduan ada yang melemparkan lembaran kertas yang ada tinta basahnya kepada Nizham. Akibatnya, tinta itu menempel ke pakaiannya. Namun, ia dengan tenang mengambil kertas tersebut dan menandatanganinya. Padahal saat itu pengawalnya amat banyak.

Siapa saja bisa dengan mudah menemui Nizham, sekalipun ia sedang makan misalnya. Pernah suatu saat ada seorang wanita hendak menemuinya, namun penjaga menghalanginya. Akhirnya Nizham menasehati si penjaga, “Sesungguhnya, saya menginginkan engkau dan orang-orang seperti engkau untuk mempersilakan ia masuk.”

Suatu saat angin berhembus kencang hingga karpetnya Nizham dipenuhi pasir. Para stafnya kebingungan, setelah tidak menemukan mereka yang bertugas untuk menyapunya. Saking marahnya, para staf itu hendak menghukum mereka. Mendengar ucapan itu, Nizham menasehati, “Mereka juga manusia seperti kita, mereka merasa sakit sebagaimana yang kita rasakan, mereka membutuhkan apa yang juga kita butuhkan. Kita telah diberi kelebihan oleh Allah daripada mereka. Maka mensyukuri nikmat-Nya bukan dengan cara menghukum mereka karena kesalahan kecil.”

Nizham sendiri dikenal sebagai pribadi yang saleh. As Subki dalam Thabaqat Al-Kubra memberi kesaksian, menteri yang satu ini rajin melaksanakan puasa Senin-Kamis dan gemar bersedekah. Kalau membaca al-Qur`an tidak pernah dengan bersandar untuk menghormati kitab suci itu. Ia juga selalu menjaga wudhu. Mushaf tidak pernah lepas dari tangannya ke manapun pergi. Jika terdengar azan berkumandang, ia segera beranjak dari pekerjaannya untuk melaksanakan shalat.

Fase Penyebaran Islam di Indonesia

Fase Penyebaran Islam di Indonesia [Indonesiaku Islam] - Penyebaran Islam di Indonesia, termasuk di pulau Jawa, biasanya digambarkan sebagai penyebaran yang bersifat damai. Dengan kata lain, Islam tersebar di wilayah ini tanpa melalui peperangan sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa, dan Asia Tengah. Penyebaran yang damai ini dilihat oleh sebagian orang sebagai hal yang positif, karena membantu terbentuknya karakteristik Islam yang cenderung damai dan toleran. Tapi ada juga yang melihatnya sebagai kelemahan. Pola dakwahnya yang cenderung kurang tegas dalam aspek aqidah dianggap telah menyebabkan banyaknya percampuran nilai-nilai lokal yang tidak Islami dengan nilai-nilai dan praktek agama Islam.
Fase Penyebaran Islam di Indonesia, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Fase Penyebaran Islam di Indonesia
Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya memang dilakukan oleh para pedagang Muslim yang melakukan aktivitas perdagangan hingga ke wilayah ini. Karena mereka bukan merupakan ulama atau dai yang mengkhususkan diri untuk menyebarkan Islam, maka perkembangan Islam di Nusantara pada awalnya juga berlangsung relatif lambat. Walaupun para pedagang dari Timur Tengah telah melalui Selat Melaka sejak sebelum munculnya Islam di Jazirah Arab, Islam tersebar di Nusantara dalam waktu yang relatif lambat. Hal ini disebabkan faktor jarak yang jauh antara pusat pertumbuhan Islam di Jazirah Arab dengan wilayah Nusantara. Sebagaimana Geoffrey Blainey menggambarkan betapa tirani jarak (tyranny of distance) telah membentuk sejarah negerinya, Australia, tirani jarak juga sebetulnya ikut membentuk sejarah perkembangan Islam di Nusantara.

Terlepas dari jarak yang jauh dan lambatnya perkembangan Islam di Nusantara, secara bertahap dan pasti pengaruh agama ini semakin kuat dan meluas di Nusantara. Keberadaan para pedagang Muslim diterima dengan baik oleh para penguasa dan masyarakat kerajaan Hindu-Budha di Nusantara. Sejak abad ke-7 pesisir Sumatera telah memiliki sebuah pemukiman Arab Muslim, dan sebagian dari pedagang ini melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan setempat (Azra, 1994: 29). Seiring dengan semakin berkembangnya komunitas Muslim di wilayah ini, pada gilirannya muncul dan berkembang juga kerajaan Islam di Sumatera.

Pola yang hampir sama berlangsung juga di Pulau Jawa, walaupun dalam waktu yang lebih lambat dibandingkan dengan Sumatera. Daya tarik perdagangan dan interaksi dengan para pedagang Muslim dari luar mendorong para penguasa kota-kota kecil di pesisir Jawa masuk Islam dan mengarahkan rakyatnya untuk melakukan hal yang sama (Taylor, 2005: 157-8). Di Pulau Jawa, wilayah pesisir yang merupakan simpul-simpul perdagangan regional dan internasional menjadi wilayah yang paling kuat dan menonjol Islamnya (Bosquet, 1940: 1).

Perkembangan Islam menjadi semakin kuat dengan datangnya para ulama dan dai yang mengkhususkan diri dalam penyebaran Islam. Kebanyakan ulama dan dai ‘profesional’ yang datang ke Nusantara ini adalah dari kalangan penganut tasawuf. Para dai ‘profesional’ ini datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Kedatangan orang-orang yang mengkhususkan diri dalam penyebaran Islam ini menyebabkan proses Islamisasi di Nusantara mengalami percepatan yang signifikan antara abad ke-12 dan ke-16 (Azra, 1994: 31). Penyebaran Islam yang semakin pesat serta kemunduran yang dialami oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Budha pada gilirannya mendorong terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam lokal. Beberapa waktu kemudian, kerajaan-kerajaan Islam berkembang semakin pesat, sementara kerajaan-kerajaan Hindu-Budha terus mengalami kemunduran dan akhirnya lenyap dari sebagian besar wilayah Nusantara.

Bersamaan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam, penyebaran Islam di Nusantara memasuki fase baru, yaitu politik dan militer. Walaupun aktivitas militer atau jihad berjalan beriringan dengan, dan barangkali tidak lebih dominan dibandingkan, penyebaran melalui dakwah dan pengajaran, aktivitas ini memiliki peranan yang cukup penting untuk diperhatikan. H.J. de Graaf menyebutkan bahwa penyebaran Islam di Nusantara terjadi melalui tiga cara yang berlangsung secara kronologis. Yang pertama adalah penyebaran melalui perdagangan (by the course of peaceful trade). Yang kedua melalui dakwah para dai dan kaum sufi (by preachers and holy men). Yang ketiga melalui kekuatan dan peperangan (by force and the waging of war) (de Graaf, 1970: 123-4)

Untuk kasus di Jawa misalnya, penyebaran Islam melalui kekuatan militer telah terjadi sejak awal keberadaan kerajaan Islam di wilayah itu, dalam hal ini Kerajaan Demak.

Hal ini terjadi kurang lebih pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Namun cara-cara militer ini tidak dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat penyebaran Islam, melainkan karena adanya ancaman dari kerajaan lain. Pada masa itu, Kerajaan Padjadjaran yang menganut Hindu berusaha menghalangi penyebaran Islam di wilayahnya dengan cara membatasi para pedagang Muslim yang datang ke kota-kota pelabuhan yang dikuasainya. Selain itu, Padjadjaran juga berusaha menjalin kerjasama dengan pihak Portugis yang sejak tahun 1511 telah menguasai wilayah Malaka. Dalam salah satu perjanjiannya, Kerajaan Padjadjaran berjanji memberi bantuan lada setiap tahunnya kepada Portugis dan memberi mereka ijin untuk membangun sebuah benteng di wilayah kerajaannya. Sebagai imbalannya, Portugis diminta membantu Padjadjaran secara militer jika yang terakhir ini mendapat serangan dari Kerajaan Demak atau yang lainnya.

Adanya perjanjian ini dilihat oleh Demak sebagai sesuatu yang akan membahayakan eksistensi Islam di Jawa dan Nusantara. Mereka sudah melihat apa yang telah dilakukan Portugis terhadap Kerajaan Malaka. Karenanya Demak tidak ingin hal yang sama juga terjadi di Pulau Jawa. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Demak memutuskan untuk mengambil alih pesisir Utara Padjadjaran. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan pembatasan terhadap para pedagang Muslim yang hendak berniaga di sana dan juga untuk menutup peluang masuknya Portugis ke wilayah itu.

Pada tahun 1524-1525, Sultan Demak, Trenggana, mengutus Sunan Gunung Jati dengan membawa pasukan menuju ke wilayah Banten yang ketika itu merupakan wilayah bawahan Padjadjaran. Penguasa Banten ternyata menerima kedatangan Sunan Gunung Jati dan membantu proses Islamisasi di wilayah itu. Pada tahun berikutnya Banten menjadi kerajaan bawahan Demak.

Langkah selanjutnya yang diambil adalah usaha menaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang paling menonjol di wilayah kekuasaan Padjadjaran pada masa itu. Serangan terhadap Sunda Kelapa dilakukan pada tahun 1527 di bawah kepemimpinan Fatahilah yang merupakan menantu Sunan Gunung Jati. Bersama sejumlah hampir 1.500 tentara, Fatahilah berhasil merebut kota pelabuhan itu dari tangan Padjadjaran. Sejak itu, nama Sunda Kelapa berganti menjadi Jayakarta yang merupakan cikal bakal kota Jakarta (Zakaria, 2010: 34-40).

Sejarah di atas menjelaskan beberapa hal kepada kita. Jihad dan tindakan militer tidak hanya berlaku pada proses penyebaran Islam di Nusantara, tetapi juga secara langsung melibatkan tokoh ulama dan wali yang menonjol. Peran Sunan Gunung Jati dan menantunya dalam pembebasan Banten dan Sunda Kelapa menjadi contoh yang nyata untuk ini. Walaupun para wali dan ahli tasawuf biasanya lebih banyak dihubungkan dengan dunia ibadah dan akhlak, ternyata hal itu tidak menghalangi mereka dari aktivitas politik dan militer.

Bagaimanapun, perlu juga disadari bahwa jihad dan aktivitas militer tidak serta merta dilakukan oleh para pemimpin Muslim pada masa itu. Walaupun syariat jihad telah ada dalam Islam sejak lebih dari delapan abad sebelumnya, komunitas Muslim tidak melakukan agresi militer atau sikap memerangi terhadap pihak yang memusuhi melainkan setelah adanya kondisi tertentu. Mereka mengambil langkah itu ketika keadaan menuntut mereka untuk melakukannya, yaitu adanya bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Selain itu, peranan militer baru dilakukan ketika sudah adanya suatu kerajaan Islam dan kerajaan tersebut memiliki perimbangan kekuatan dengan kerajaan lain yang mengancamnya. Jadi hal tersebut tidak dilakukan secara sporadis tanpa mempertimbangkan peta kekuatan yang ada serta tuntutan untuk melakukannya.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Islam telah berkembang dengan pesat di Nusantara melalui tahap pembentukan kekuatan ekonomi, pembangunan kekuatan spiritual dan keilmuan, dan pada akhirnya perwujudan kekuasaan politik dan jihad (militer). Namun tampaknya pada masa-masa belakangan ini, dua aspek yang awal, yaitu kekuatan ekonomi dan spiritual, cenderung diabaikan oleh masyarakat Muslim di Nusantara. Yang menjadi perhatian utama tinggal yang terakhir saja. Itu pun mungkin tanpa diiringi dengan pengertian yang tepat serta strategi yang jitu. Wallahu a’lam.*/Kuala Lumpur, 12 Jumadil Akhir 1432/ 15 Mei 2011

Kisah Islamnya Tughluk Timur Khan

Kisah Islamnya Tughluk Timur Khan [Indonesiaku Islam] - Bangsa Mongol pada era Jenghis Khan (w. 1227) dan anak cucunya, sebagaimana telah diketahui secara luas, telah menaklukkan banyak wilayah. Pada puncak kekuasaannya, mereka mengendalikan wilayah Asia Tengah, China, Rusia, sebagian Timur Tengah, dan Eropa Timur.
Kisah Islamnya Tughluk Timur Khan, Indonesia Islam, Islami, Sejarah islam, islam agamaku, tentang islam, hukum islam, solawatan, download solawatan
Kisah Islamnya Tughluk Timur Khan
Mongol pada masa itu adalah bangsa penakluk, tetapi kekuatan utamanya ada pada militer, bukan pada ilmu pengetahuan dan sistem keyakinan yang kuat. Sehingga pada akhirnya, orang-orang Mongol ini terpengaruh oleh agama dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkannya.

Selepas Jenghis Khan, wilayah kekuasaannya dibagi-bagi untuk empat putra utamanya, Jochi, Chagatai, Ogedei, Tolui, serta keturunan mereka masing-masing. Tak terlalu lama setelah menguasai wilayah yang luas itu, sebagian anak keturunan Jenghis Khan yang memimpin wilayah Muslim mulai masuk Islam.

Berke Khan (w. 1266) merupakan pangeran pertama di kalangan anak-cucu Jenghis Khan yang masuk Islam. Ia adalah cucu Jenghis Khan dari anak pertamanya, Jochi. Berke Khan masuk Islam di tangan Saifuddin Boharzi, seorang Syeikh sufi dari Bukhara, dan selepas itu ia pun berhasil mengajak seorang saudaranya, Tukh-Timur, masuk Islam.

Ia memimpin wilayah Golden Horde di Barat Rusia. Kepemimpinannya kuat dan pasukannya beberapa kali menginvasi Eropa Timur dan menyebabkan Kaisar Byzantium terpaksa memberikan upeti kepadanya. Ketika Hulagu Khan menguasai dan menghancurkan kekhalifahan Islam di Baghdad serta meneruskan invasinya ke Suriah dan Mesir, Berke Khan bekerja sama dengan penguasa Mamluk di Mesir untuk menghadapi sepupunya itu.

Hulagu Khan (w. 1265) yang belakangan bermusuhan dengan Berke Khan merupakan anak Tolui, putera bungsu Jenghis Khan. Hulagu inilah yang menaklukkan Baghdad, meruntuhkan pusat kekhalifahan Islam pada tahun 1258, dan mendirikan Dinasti Ilkhanate di wilayah Persia.

Walaupun tindakannya itu sangat merugikan peradaban Islam, tetapi salah satu anaknya sendiri, yaitu Teguder Ahmad, memutuskan masuk Islam. Teguder Ahmad sempat menjadi pemimpin Ilkhanate dan menjadikannya kesultanan, tetapi dua tahun kemudian ia dikalahkan oleh keponakannya sendiri yang memberontak kepadanya dan mengambil alih kepemimpinan.

Beberapa tahun selepas itu, Ilkhanate kembali dipimpin oleh pangeran Mongol yang Muslim, yaitu Ghazan, dan kemudian berubah menjadi kesultanan Islam.

Banyak cucu dan keturunan Jenghis Khan lainnya yang kemudian juga masuk Islam dan mengadopsi kebudayaan serta peradaban Islam dalam sistem pemerintahan mereka. Ada juga yang tidak masuk Islam, tetapi pengaruh peradaban Islam cukup kuat dalam pemerintahannya, seperti yang terjadi di China misalnya. Dinasti Yuan merupakan dinasti Mongol di China yang pertama kali dipimpin oleh Kubilai Khan. Walaupun para penguasa dan mayoritas penduduknya tidak menganut Islam, tetapi peran kaum Muslimin dalam pemerintahan serta dalam lapangan ilmu pengetahuan dalam Dinasti Yuan sangat menonjol.

Sehingga ketika Dinasti itu melemah dan runtuh, dinasti yang menggantikannya adalah Dinasti Ming yang Muslim.

Tughluk Timur Khan

Tughluk Timur (w. 1363) merupakan keturunan Jenghis Khan yang ketujuh, dari jalur Chagatai. Ia hidup lebih dari satu abad setelah Jenghis Khan. Menjelang masa kepemimpinannya, wilayah kekuasaan keluarga Chagatai terpecah dua, yaitu Transoxiana di sebelah Barat dan Moghulistan di sebelah Timur yang kebanyakan penduduknya menganut Budha atau Shamanisme. Wilayah-wilayah ini pada jaman sekarang ini mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgystan, Kazakhstan, dan Barat Laut China.

Ketika itu tidak ada pemerintahan yang kuat pada kedua wilayah ini. Seorang amir dari keluarga Dughlat, yaitu Bulaji, memutuskan untuk memilih seorang Khan yang akan dibesarkan untuk menjadi seorang pemimpin di wilayah tersebut. Pilihannya jatuh pada seorang pemuda bernama Tughluk Timur dan dikatakan sebagai anak atau, menurut sejarawan lainnya, keponakan dari khan yang sebelumnya, Esen Buqa (w. 1318).

Tughluk Timur kemudian masuk Islam dan mendorong emir-emirnya yang lain untuk masuk Islam juga. Ia pada awalnya memimpin wilayah Moghulistan, dan belakangan berhasil menyatukan wilayah Transoxiana ke dalam wilayah kekuasaannya.

Sejarah pemerintahan Tughluk Timur dan keturunannya secara khusus tertulis dalam buku Tarikh-i-Rashidi yang disusun oleh Mirza Muhammad Haidar, seorang emir dari keluarga Dughlat. Mirza sendiri sempat memimpin wilayah Kashmir dan meninggal di wilayah itu.

Tarikh-i-Rashidi menceritakan kisah masuk Islam-nya Tughluk Timur. Pada suatu hari, Tughluk Timur yang masih berumur 18 tahun pergi berburu bersama beberapa orang bawahannya.
Ketika itu tampaknya ia baru menjelang diangkat sebagai khan atau pemimpin Moghulistan. Tughluk memerintahkan orang-orang untuk menyertainya berburu, tidak boleh ada yang absen.

Ketika itu, ia melihat ada beberapa orang yang sedang duduk beristirahat tak jauh dari tempatnya berburu. Maka ia pun memerintahkan agar orang-orang ini ditangkap, karena mereka telah melanggar perintahnya untuk ikut serta berburu.

Mereka kemudian dibawa ke hadapan Tughluk Timur. Orang-orang yang ditangkap ini adalah rombongan kecil yang dipimpin oleh Syeikh Jamaluddin, seorang ulama keturunan Tajik. Saat berada di hadapannya, Tughluk bertanya kepadanya, “Mengapa kalian melawan perintah saya?”

Syeikh Jamaluddin kemudian menjawab, “Kami ini orang asing yang meninggalkan reruntuhan kota Katak. Kami tidak mengerti tentang perburuan dan aturan dalam berburu, karena itu kami tidak melanggar perintahmu.”

Apa yang dikatakan Syeikh Jamaluddin memang benar, sehingga Tughluk tidak memiliki alasan untuk menahan atau menghukumnya. Ia pun memutuskan untuk membebaskan mereka. Tapi ymungkin masih ada rasa kesal dalam hatinya terhadap Syeikh Jamaluddin, sehingga ia mengajukan pertanyaan terakhir yang bertujuan menghinakannya. Ketika itu ia sedang memberi makan anjingnya dengan potongan daging babi. Maka ia pun bertanya kepada Syeikh Jamaluddin, “Apakah kamu lebih baik daripada anjing ini; atau anjing ini yang lebih baik daripada kamu?”

Syeikh Jamaluddin memberikan jawaban yang bijak, “Kalau saya memiliki iman, maka saya lebih baik daripada anjing ini; tapi kalau saya tidak memiliki iman, maka anjing ini lebih baik daripada saya.”

Tughluk rupanya terkesan dengan jawaban ini. Setelah selesai dari aktivitasnya, ia memutuskan untuk pulang dan ia memerintahkan anak buahnya untuk menaikkan Syeikh Jamaluddin ke atas kuda dan membawanya untuk menemuinya. Anak buah Tughluk kemudian membawa seekor kuda dan mempersilahkan Syeikh Jamaluddin naik ke atasnya. Saat melihat ada bekas darah babi pada sadel kuda itu, Syeikh Jamaluddin memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi karena terus didesak, ia akhirnya mengendarai kuda itu dengan meletakkan sehelai sapu tangan di atas sadel kuda itu.

Saat tiba di hadapan Tughluk, ia kembali ditanya, “Apa itu tadi yang sekiranya dimiliki oleh seseorang ia akan lebih baik daripada anjing?”

“Iman,” jawab Syeikh Jamaluddin. Beliau kemudian menjelaskan apa itu iman dan menjelaskan tentang Islam kepada Tughluk Timur sehingga yang terakhir ini tersentuh dan menangis.
Tughluk kemudian berkata kepada Syeikh Jamaluddin, “Kalau nanti saya menjadi seorang Khan dan memiliki kekuasaan yang mutlak, kamu harus datang lagi kepada saya, dan saya berjanji akan menjadi seorang Muslim.” Ia kemudian menyuruh orang-orangnya untuk membawa pergi Syeikh Jamaluddin dengan penuh penghormatan.

Rupanya tak lama setelah kejadian itu, sebelum Tughluk diangkat menjadi seorang penguasa, Syeikh Jamaluddin meninggal dunia. Namun sebelum meninggalnya, ia menceritakan pengalamannya itu kepada anaknya yang bernama Arshaduddin yang juga alim dan soleh. Ia berpesan kepada anaknya itu, “Karena saya mungkin akan meninggal dunia tak lama lagi, maka hendaknya hal ini menjadi perhatian kamu. Jika pemuda itu menjadi seorang Khan, ingatkan dia tentang janjinya untuk menjadi seorang Muslim; dengan begitu berkah kebaikan ini mudah-mudahan terjadi dengan perantaraanmu, dan karenanya dunia akan menjadi terang benderang (dengan cahaya Islam, pen.).”

Tidak lama setelah itu, Tughluk Timur diangkat menjadi seorang Khan yang berkuasa penuh atas wilayah Moghulistan. Saat mendengar hal ini, Syeikh Arshaduddin segera berangkat ke Moghulistan dan mencari jalan untuk bertemu dengan Tughluk Khan. Tetapi berkali-kali mencoba, ia tetap tidak berhasil menjumpainya.

Ia terus menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Khan yang baru diangkat itu. Sementara itu, ia punya kebiasaan melantunkan azan subuh setiap pagi di tempat yang tidak terlalu jauh dari tenda tempat tinggal Tughluk Khan. Pada suatu pagi, Tughluk Khan memanggil seorang pengawalnya dan berkata, “Ada orang yang bersuara keras seperti ini setiap pagi, pergi dan bawalah ia ke sini.”

Syeikh Arshaduddin masih di tengah lantunan azannya ketika pengawal itu datang dan terus menangkap dan membawanya ke hadapan Tughluk Khan. Tughluk kemudian bertanya kepadanya, “Siapa kamu yang selalu mengganggu tidur saya setiap pagi di waktu yang awal ini?”

“Saya putera seseorang yang pada satu ketika dulu Anda berjanji kepadanya untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Syeikh Arshaduddin. Ia pun menceritakan apa yang dahulu pernah terjadi antara ayahnya dan Tughluk Khan sehingga yang terakhir ini ingat.

“Engkau diterima,” kata Tughluk Khan, “dan dimana ayahmu?”

“Ayah saya telah meninggal dunia, tetapi ia memberikan amanah misi ini kepada saya,” jawab Syeikh Arshad.

“Sejak saya naik ke tampuk kepemimpinan saya ingat bahwa saya mempunyai sebuah janji, tetapi orang yang saya beri janji itu tidak pernah datang. Sekarang saya menerimamu. Apa yang mesti saya lakukan?”

Maka Syeikh Arshaduddin membimbingnya untuk melakukan wudhu dan mengucapkan kalimat syahadat selepasnya. Kemudian ia mengajarinya hal-hal yang mendasar dalam Islam. Mereka juga sepakat untuk mengajak setiap emir di pemerintahan Tughluk Khan untuk masuk Islam. Satu demi satu emir-emir kepercayaannya diseru kepada Islam dan mereka menerima ajakan ini. Ternyata beberapa emir itu ada yang sudah masuk Islam secara diam-diam sebelumnya. Mereka merahasiakan hal ini karena khawatir Tughluk Khan tidak akan menyukainya.

Keislaman Tughluk Timur Khan telah membawa perubahan besar dalam pemerintahan di Moghulistan. Ia lah yang secara resmi untuk pertama kalinya menjadikan Islam sebagai agama negara di wilayah ini. Semuanya berawal dari pertemuannya dengan seorang Syeikh yang soleh dan mampu menjelaskan kepadanya tentang hakikat iman; bahwa iman itulah yang menentukan nilai kemuliaan seorang hamba dan membedakannya dari seekor hewan.