Info
|
Profil G+ Profil Facebook Profil twitter
Berita



Sejarah

Artikel

Tampilkan postingan dengan label Ilahiyah Finance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilahiyah Finance. Tampilkan semua postingan

Solusi 1 % …


TERKADANG permasalahan yang ada itu begitu besar sehingga kita awang-awangen untuk mengatasinya. Tetapi ada cara untuk mengatasinya agar tidak terlalu terasa berat, yaitu dengan cara mem-break-down-nya menjadi sejumlah masalah kecil yang kemudian terasa ringan untuk diatasi satu persatu. Masing-masing pecahan masalah tersebut bisa ditangani ahlinya sehingga tidak ada yang terlalu berat untuk diatasi.

Katakanlah masalah itu kita pecah menjadi 100 bagian , maka bila setiap 1 bagian atau 1 %-nya bisa diatasi oleh 1 orang (team) – seluruh permasalahan yang ada bisa diselesaikan oleh 100 orang (team). Well, tepatnya tidak harus menjadi 100 bagian, tetapi intinya adalah dibagi menjadi sejumlah masalah-masalah yang lebih kecil.

Ambil sekarang contoh kasus yang hingga kini seolah tidak ada solusinya bagi masyarakat Jakarta – yaitu banjir. Apakah penduduk di Jakarta harus pasrah menerima realita banjir yang semakin membesar setiap tahunnya ? Mestinya tidak. Lantas apakah pemerintah yang terwakili oleh Gubernur DKI dan teamnya harus bisa mengatasinya? Juga tidak.

Masyarakat tidak bisa mengatasinya sendiri, demikian pula Gubernur DKI dan jajarannya tidak bisa mengatasinya sendiri. Permasalahan banjir di Jakarta hanya bisa diatasi bila permasalahan tersebut dipecah menjadi masalah-masalah yang lebih kecil kemudian ditugaskan ke masing-masing ‘ahli’ nya untuk mengatasinya.

Ada yang menjadi tugas pemerintah, misalnya yang terkait pembangunan sarana dan prasarana, menegakkan peraturan, memberlakukan sangsi bagi yang melanggar dlsb. Ada yang menjadi tugas masyarakat seperti menangani sampah di lingkungan masing-masing, menanam pohon dlsb.
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
“Allah mendatangkan hujan dari langit sebagai berkah, supply untuk kebutuhan air kita yang demand-nya bisa jadi muncul sekian tahun, sekian generasi dari sekarang. Bila berkah ini tidak bisa kita kelola, apalagi malah menjadi musibah – maka pastilah bersama-sama kita semua belum memenuhi atau melaksanakan tugas dariNya : “…Dia telah jadikan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya …” (QS Hudd [11]:61).
Solusi dengan memecah permasalahan menjadi sejumlah permasalahan kecil-kecil dan mengalokasikannya ke masing-masing ahlinya ini juga berlaku bagi seluruh permasalahan kita baik di urusan rumah tangga, usaha, organisasi dlsb. Hanya dibutuhkan 100 orang dengan kemampuan menyelesaikan 1 % masalah, untuk bisa menuntaskan seluruh permasalahan yang ada.

Namun pendekatan ini tentu saja tidak semudah yang kita katakan. Untuk bisa efektif berjalan, berikut prasyaratnya.

Pertama, harus disadari bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mengatasi 100% permasalahan yang ada seorang diri. Artinya setiap pihak harus membuka diri akan kekurangannya sehingga bisa diisi oleh yang lain.

Kedua, harus ada platform yang sama dalam menyelesaikan masalah itu. Seperti lebah yang membangun rumahnya dari sejumlah titik yang berbeda, tetapi menjadi satu banguan yang indah – yang seamless ( tanpa sambung) – karena mereka selalu menggunakan platform yang sama yaitu wahyuNya :
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”” (QS an-Nahl [16]:68).
Kebutuhan platform yang sama inilah yang mutlak perlu, dan tidak ada platform yang lebih baik dan lebih lengkap selain platform wahyuNya!

Artinya solusi 1 % ini hanya berlaku bila manusia hidup berjamaah kemudian semua dituntun oleh wahyu-Nya untuk memerankan peran masing-masing.

Ketika platform itu platform politik, platform daerah, platform kepentingan ekonomi dan sejenisnya – maka solusi untuk kemaslahatan umat yang lebih besar itu akan sangat sulit dicapai. Dalam mengatasi permasalah banjir di atas saja misalnya, pemerintahan DKI nampaknya tidak sepenuhnya mendapatkan dukungan dari daerah-daerah penyangganya.

Ketiga, yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa sekecil apapun kontribusi kita – baik yang positif maupun yang negatif –semuanya diperhitungkan:
وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ
“Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS al-Anbiya’ [21]:47).
Kita tidak boleh enggan beramal shaleh meskipun nampaknya kecil, sebaliknya kita tidak boleh melaksanakan hal-hal yang buruk meskipun itu juga nampaknya remeh-temeh.

Ada hal yang nampaknya remeh-temeh tetapi sangat buruk dilakukan rame-rame oleh masyarakat Jakarta dan sekitarnya, dan ini saya amati baru terjadi beberapa tahun terakhir – yaitu sengaja membuang sampah dalam bungkus-bungkus plastik di jalan-jalan besar, jembatan , dan tempat-tempat yang tidak ada pengawasannya.

Bila menyingkirkan batu dari jalan adalah bagian dari iman, maka bagian dari apa ini kebudayaan buruk yang mewabah berupa aksi membuang sampah di jalan-jalan ini? Siapa yang mengajari masyarakat modern melakukan hal-hal buruk seperti ini?

Ada yang lebih buruk lagi dari membuang sampah di jalan di atas yang secara rame-rame dilakukan di negeri ini dan bahkan sekarang diwajibkan yaitu riba. Riba yang diwajibkan itu sudah berlaku sejak awal tahun ini berupa BPJS dan JKN, yang menurut standar fatwa MUI no 1/2004 – mestinya jelas-jelas masuk kategori riba.

“Bila riba yang tidak ditinggalkan saja sudah dinyatakan pernyataan perang terhadap Allah dan RasulNya (QS 2:279), bila dosa teringan riba adalah seperti seorang yang menzinahi ibu sendiri.” (HR Al-Hakim) – maka pernyataan apa dan dosa apa ini jadinya bila riba itu kini sudah menjadi kewajiban?

Sejak 1 Januari 2014 ini riba menjadi kewajiban di negeri ini, sejak awal tahun ini pulalah musibah demi musibah silih berganti tiada hentinya . Apakah ini kebetulan? Tidak ada yang kebetulan yang terjadi di bumi ini.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS: ar-Rum [30]: 41)
Apakah kita ramai-ramai kembali kejalanNya setelah musibah-demi musibah terjadi ini? Itulah setidaknya peran 1 % dari kita masing-masing. Bila masing-masing kita kembali kejalanNya dengan terus memohon petunjuk dan perlindungaNya, terus berbuat yang kita bisa meskipun nampaknya kecil – maka insyaAllah kita akan bersama-sama selamat dari bencana-demi bencana ini. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Entrepreneurship ‘Pak Ogah’

Entrepreneurship ‘Pak Ogah’ [Indonesiaku Islam] - SUDAH lebih dari seperempat abad fenomena ‘Pak Ogah’ eksis di jalan-jalan yang tidak dijaga oleh Polisi. Tikungan sempit, u-turn, jalur sempit untuk satu mobil, jalan rusak dan sejenisnya menjadi pasar bagi jasa informal yang kemudian secara umum kita mengenalnya sebagai ‘Pak Ogah’ ini.

Sebagaimana ‘penjual jasa’ , mereka ada yang sukses dan ada pula yang tidak. Karena hampir setiap hari ketemu mereka ini di perjalanan dari dan ke rumah saya di Cibubur, saya bisa ‘mengamati’ siapa ‘Pak Ogah’ yang sukses dan siapa yang tidak – bagus untuk pembelajaran entrepreneurship bagi kita semua.

Jenis pertama adalah ‘Pak Ogah’ yang tidak sukses. Yang saya amati ini berada di jalan besar dua jalur dan masing-masing jalur bisa dilewati sampai empat mobil –jalan ini adalah Jalan Raya Alternatif Cibubur.

Di salah satu u-turn di depan komplek kami CitraGrand, hampir sepanjang waktu u-turn ini tidak dijaga polisi, kecuali pada saat bapak Presiden kita pulang atau pergi ke rumahnya di Cikeas – yang membuat semua u-turn sepanjang perjalanannya dijaga polisi.

Inilah nampaknya salah satu pasar yang sudah 'dikapling’ oleh sejumlah ‘Pak Ogah’ secara bergantian. Setiap ‘jam kerja’ masing-masing, umumnya ‘Pak Ogah’ yang bekerja di sini bekerja sendirian atau kalau berdua – masing-masing mengurusi satu jalur dengan tidak berkoordinasi satu sama lain.

Value Proposition 'Pak Ogah'

Mengapa saya kategorikan tidak sukses ‘Pak Ogah’ yang di sini? Lihat posisi yang diambil pada gambar. Dia selalu berdiri di kanan kita (pengemudi) – pas kita sedang memutar, mungkin maksudnya agar mudah menerima uang dari para pengemudi. Tetapi sangat sedikit pengemudi yang mau memberi uang ke ‘Pak Ogah’ yang mangkal di lokasi ini, mengapa?

Pengemudi akan cenderung menengok kekiri – melihat mobil-mobil dari arah yang berlawanan, sehingga keberadaan ‘pak Ogah’ di sisi kanannya tidak memberikan value bagi si pengemudi. Jadi meskipun potensi pasarnya besar – jalan ini sangat padat bahkan cenderung macet, ‘Pak Ogah’-nya kurang bisa menangkap peluang yang ada – karena dia salah mengambil posisi sehingga tidak bisa memberikan value proposition yang berarti bagi ‘pasar’-nya.
Perhatikan bandingannya dengan ‘Pak Ogah’ lain yang bekerja secara team di terowongan bawah tol – yang menjadi jalan belakang bagi komplek kami dan komplek-komplek lain di Cibubur. Terowongan ini hanya bisa dilalui oleh satu mobil, jadi harus bergantian dari masing-masing arah – lihat di gambar 2.

Ini menjadi pasar 24 jam bagi team ‘Pak Ogah’ yang setiap ‘jam kerja’-nya minimal bertugas dua orang – masing-masing menjagai ujung terowongan. Hampir setiap mobil yang lewat terowongan ini selalu memberi uang ke ‘Pak Ogah’ di salah satu ujung terowongannya.

Mengapa para pengemudi cenderung memberikan uang ke team ‘Pak Ogah’ yang ini ?, karena mereka berhasil memberikan value bagi para pengemudi yang harus mengantri di ujung terowongan masing-masing menunggu gilirannya lewat. Tanpa keberadaan ‘Pak Ogah’ di masing-masing ujung terowongan tersebut, pasti akan terjadi masalah ketika mobil-mobil dari arah yang berlawanan bertemu di dalam terowongan. Dengan adanya team yang bekerja dengan komunikasi isyarat yang baik dari masing-masing ujung, potensi masalah tersebut dapat dihindari di jam-jam sibuk sekalipun.

Bagi team ‘Pak Ogah’ yang bekerja di terowongan ini, pasar sebenarnya tidak terlalu besar karena ini hanyalah ‘jalan belakang’ bagi komplek-komplek yang ada di daerah tersebut. Tetapi pasar yang tidak terlalu besar ini berhasil diolahnya dengan value proposition yang memang benar-benar dibutuhkan oleh ‘pasar’-nya. Mereka nampaknya juga punya team yang baik dan lengkap dengan metode berkomunikasi, berbagi hasil, berbagi jam kerja dlsb.

Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dua jenis ‘Pak Ogah’ ini – yaitu yang sukses dan yang tidak? Yang tidak sukses hanya melihat potensi pasar yang besar, tetapi tidak berhasil merumuskan value proposition yang dibutuhkan pasarnya. Dia juga tidak membangun team yang bisa merealisasikan value proposition tersebut.

Yang sukses dia tidak harus menggarap potensi pasar yang besar. Pasar yang kecil sekalipun – tetapi bila pasar ini bener-bener dilayani dengan fokus, dengan value proposition yang dapat dirasakan langsung oleh ‘pasar’nya – maka pasar yang kecil inipun bisa menghasilkan pendapatan yang besar. Yang sukses ini bekerja secara team yang efektif dalam berkomunikasi dan berbagi waktu serta hasil.

Di bisnis apapun yang (ingin) Anda terjuni, siapkan value proposition ini secara maksimal – yaitu apa yang Anda (akan) berikan ke pasar Anda yang lebih dari yang lain, yang bener-bener menjawab kebutuhan pasar atau bener-bener mengatasi problem yang mereka hadapi. Untuk merealisasikan value proposition inipun sangat bisa jadi Anda butuh team yang mampu berkomunikasi dan berbagi dengan baik. InsyaAllah Anda menjadi ‘Pak Ogah’ yang sukses dibidang Anda masing-masing. Amin.*